Senin, 16 Desember 2013

Anak Yang Suka Memukul




TUGAS OBSERVASI
BIMBINGAN DAN KONSELING DI PAUD
ANAK YANG SUKA MEMUKUL

 


DI SUSUN OLEH :
Nama : Faustina Bewu
Nim : 1205125093


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
TAHUN 2013




KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah ini merupakan salah satu dari tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling di PAUD. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada dosen dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...

Samarinda, 15 Desember 2013


Penyusun











BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Pengertian Bimbingan dan Konseling  
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari istilah “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiah istilah “guidance” berasal dari akar kata “guide” yang berarti : (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to steer).  Sedangkan ”counseling” menurut Shertzer dan Stone dalam Fundamentals of  Guidance (1981) (Yusuf, 2009). [1][1]  Konseling adalah proses interaksi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya sehingga pada akhirnya konseli mampu membuat keputusan dan/atau menentukan tujuan dan memilih nilai untuk perilakunya di masa depan.  Definisi tersebut dipertegas dalam Panduan  Pengembangan Diri (Permendiknas No. 22 Tahun 2006)  yang menyebutkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan bimbingan dan konseling  memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses berkembang yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut individu memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling karena mereka masih kurang memiliki pemahaman dan wawasan tentang diri dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Bimbingan dan konseling dalam satuan jalur pendidikan formal penting, mengingat bahwa perkembangan peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, misalnya perkembangan di PAUD/TK/RA akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, dimana perkembangan di SD/MI-SMP/MTs-SMA/MA/SMK, dan PT sangat ditentukan oleh bagaimana keberhasilan anak melampaui masa sekolahnya di PAUD/TK/RA.dan seterusnya
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian anak yang suka memukul
2.      Apa penyebab anak suka memukul
3.      bagaimana penanganan anak yang suka memukul



























BAB II
DASAR TEORI

Memukul merupakan reaksi alami saat seseorang anak merasa kesal, marah, atau frustasi. Maka, tidak aneh jika di usia ini anak-anak sering saling pukul. Hal ini bisa dimaklumi karena anak belum tahu bagaimana cara yang tepat mengekspresikan rasa marah atau kesal, mulai menyadari fungsi dan kekuatan tangannya. Dengan anak memukul, ia tahu reaksi lawannya. Anak belum bisa bicara. Bicara adalah ekspresi verbal. Anak yang belum bisa bicara menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan maksudnya, anak memiliki kelebihan energi dan tidak tahu cara menyalurkannya, dan tidak tahu akibat dari pukulannya terhadap korban. 
Namun yang menjadi persoalan penulis adalah terdapat anak dengan perilaku suka memukul orang lain. Seperti memukul guru, dan memukul teman sebayanya. Sebut saja namanya Rayyan, dia berusia empat Tahun, dan anak tunggal, dia dititipkan di TPA karena kedua orangtuanya sibuk bekerja.  Karena pola asuh yang diterapkan di TPA berbanding terbalik dengan pola asuh di rumah sehingga memungkinkan anak bingung dalam mendisiplinkannya di lingkungan sekitarnya.  Pentingnya pola asuh keluarga ini, akan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan sifat-sifat yang melekat pada anak. Karena secara fitrah Allah tidak menciptakan hamba-Nya dalam sifat-sifat buruk, tetapi dalam keadaan suci dan bersih. Namun, karena kurangnya pendidikan dan perhatian, serta peringatan sejak dini dari orang tua, maka sifat-sifat buruk timbul pada diri anak. 
Maka apabila anak mempunyai permasalahan, kita sebagai orang tua atau pendidik tidak boleh langsung menyalahkan anak, berintropeksi terlebih dahulu. Pilihlah kata-kata yang tepat bila ingin mengkritik anak. Perhatikan juga nada bicara kita. Untuk menanamkan perilaku baik kepada anak, tentu harus dimulai dari kebiasaan dalam keluarga. Seperti hubungan ibu dan ayah yang baik, pendidikan moral yang baik. Hal tersebut merupakan modal awal bagi anak untuk punya perilaku dan perkataan yang baik sehari-hari. Tanamkan pemahaman, anak-anak memang sedang dalam proses belajar dan beradaptasi. Sehingga seburuk apa pun perilakunya, selalu masih ada peluang untuk diperbaiki. 
Berikut ini penulis akan berbagi kepada pembaca bagaimana cara bijak mengatasi kebiasaan anak yang suka memukul:
1. Jangan Memukul Balik
Bagi sebagian orangtua, memukul merupakan tindakan yang tepat untuk mendisiplinkan si kecil. Memukul atau menampar anak adalah cara sederhana agar dia mau mengerti. Namun, memukul balik bisa membuat anak menjadi bingung karena Anda menasihati mereka dengan cara yang sama. Akan lebih baik bila Anda memperingatinya dengan tegas serta memberikan dia konsekuensi yang mendidik.
2. Cari Tahu Apa Pemicunya
Bila anak Anda sering memukul, perhatikan apa pemicu sebenarnya. Apakah dia melakukan itu karena lelah, bosan, lapar, atau marah? Selain itu, bisa jadi dia juga terpengaruh oleh lingkungan keluarga atau sekelilingnya. Untuk mengatasi hal ini, coba perhatikan anak saa bermain lalu amati reaksinya terhadap anak-anak lain. Pastikan kalau dia tidak memukul, terutama ke wajah. Cara ini bisa membantu Anda mengurangi sikap anak yang suka memukul.
3. Tunjukkan Cara Berkomunikasi yang Baik
Dalam kebanyakan kasus, anak-anak sebenarnya tidak memukul orangtua karena marah atau frustasi, tapi karena mereka ingin mendapatkan perhatian lebih dari Anda. Kunci untuk mengubah perilaku buruk tersebut dengan menunjukkan cara berkomunikasi yang baik. Sebagai contoh, kalau anak Anda kesal, lalu memukul, sebaiknya Anda cepat merangkul serta memeluknya. Beritahukan bagaimana cara menepuk lengan atau wajah dengan lembut. Ingat, mengubah kebiasaan si kecil memang butuh kesabaran.
4. Buatlah Komunikasi yang Menyenangkan
Beberapa anak memiliki kebiasaan alami untuk menggunakan tangan mereka sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, Anda perlu mengajari mereka dengan membuat komunikasi yang menyenangkan. Misalnya, begitu dia ingin memukul, cepat intervensi dengan menggerakkan tubuh dan katakan 'ayo tos'. Hal itu akan membuat si kecil bingung, bisa jadi tersenyum dan tidak menjadi melakukannya. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan buruk anak seiring berjalannya waktu.
5. Sediakan Banyak Waktu untuk Anak 
Luangkan waktu yang banyak agar bisa mengubah kepribadian si kecil. Sering-seringlah memeluk serta mengajak mereka bermain agar dia semakin dekat dengan Anda. Ajarkan dia menggunakan tangan secara lembut hingga anak benar-benar bisa mempraktekannya.















BAB III
PEMBAHASAN

1.     Analisis
a.       Biodata siswa
Nama anak : Bintang
Usia            : 4 tahun (ponakan teman)
Alamat        : Kabupaten Paser,kecamatan Long Ikis
Anak ke      : pertama
Agama        : katolik
Makanan kesukaan : bakso
Minuman kesukaan : es jeruk


Nama orang tua : Abraham
Umur                 : 32
Agama               : kahtolik
Hobby                : main volly
Alamat                : kabupaten paser,kecamatan Long Ikis

b.      Tingkah laku kebiasaan Bintang yaitu suka memukul teman nya
2.     Sintesis
Dari hasil analisis tentang Bintang yang suka memukul teman nya ternyata karena dia merasa iri dan tidak suka dengan sikap dari teman nya,contoh nya ketika Bintang memiliki barang seperti pentolan maka teman nya mau berteman dengan dia sedang kan jika dia tidak memiliki apa-apa teman nya pun menjauh dari dia dan terkadang malah mengejek dia sehingga dia sering memukul teman-teman nya tersebut dan itu tidak terjadi pada teman-teman nya tersebut saja tapi juga dengan teman-teman nya yang ia tidak sukai maka ia tidak segan-segan untuk memukul mereka.
3.     Diagnosis
Penyebab utama nya yaitu factor pola asuh
Karena Bintang kurang mendapat kan kasih sayang dari orang tua nya sebab dari kecil Bintang sudah tinggal bersama kakek dan nenek nya.
Di rumah Bintang juga tinggal bersama paman nya dan sering di perlakukan kasar oleh paman nya tersebut,seperti membentak-bentak,caci-maki,suka memaksa Bintang jika Bintang tidak mau mendengar apa yang di katakan oleh orang yang lebih dewasa dari dia,seperti kakek dan nenek nya serta paman dan bibi nya.
Contoh lain yang sering di paksa oleh paman nya adalah memaksa Bintang tidur siang pada hal bintang tidak ngantuk dan ingin main di luar rumah dan paman nya pun melarang dan akhir nya Bintang pun takut kepada paman nya tersebut dan hanya diam dan menuruti perkataan paman nya.
4.      Prognosis
Pertama, saat anak memukul hentikkan segera!
Jangan biarkan dia berlanjut memukul teman nya dan katakan pada nya dengan  tenang tapi tegas bahwa teman nya merasa sakit jika di pukul.


Kedua,mengajak anak bicara untuk menemukan konsekuensi apa yang mungkin anak dapatkan saat anak mengulangi perbuatan memukulnya tersebut. Seperti memisahkan mereka dan tidak mempertemukan mereka dulu selama 30 menit dan mengatakan bahwa perbuatan nya tidak di sukai oleh teman nya maupun TUHAN.
Ketiga, memberikan pengertian bahwa memukul itu akan menyakiti orang lain.



5.      Treadmen
1)      mendampingi dan melatih anak untuk bisa mengontrol emosi dan menunjukkan ekspresinya.
2)      Memberitahu paman nya bahwa Anak tak perlu dimarahi atau dihukum ketika memukul orang lain. Tapi tidak berarti itu boleh dibiarkan, karena anak tetap perlu belajar mengendalikan diri.
3)      berbicara kepada orang tua tempat anak tinggal anak harus belajar untuk meminta maaf sendiri bukan dengan paksaan. Tujuannya agar anak memahami kesalahan yang dilakukan sehingga tidak mengulangi kembali.
4)      Memberikan saran kepada orang tua Tiap kali ia memukul  tahanlah ia agar tak bermain sejenak
5)      Memberi tahu kepada orang tua agar tidak marah.  Dan memperingati, kemarahan mereka (apalagi jika mereka sampai berteriak atau memukul agar ia mengerti betapa tak enaknya dipukul ) justru akan jadi contoh yang jelas bagi anak tentang cara melampiaskan kemarahan.






BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perhatian dan kasih sayang merupakan kebutuhan mendasar bagi anak. Lingkungan rumah berfungsi sebagai tempat berlindung Dengan kata lain, lingkungan keluarga memiliki andil besar dalam perkembangan psikologi anak.
Kita sebagai orang tua juga tidak boleh berkata kasar kepada anak seperti caci-maki,,memaksa,,memarah dan membentak anak karena mereka akan meniru apa yang kita lakukan kepada mreka.



B.     Saran
Apabila anak mempunyai permasalahan, kita sebagai orang tua atau pendidik tidak boleh langsung menyalahkan anak, berintropeksi terlebih dahulu. Pilihlah kata-kata yang tepat bila ingin mengkritik anak. Perhatikan juga nada bicara kita. Untuk menanamkan perilaku baik kepada anak, tentu harus dimulai dari kebiasaan dalam keluarga. Seperti hubungan ibu dan ayah yang baik, pendidikan moral yang baik. Hal tersebut merupakan modal awal bagi anak untuk punya perilaku dan perkataan yang baik sehari-hari. Tanamkan pemahaman, anak-anak memang sedang dalam proses belajar dan beradaptasi. Sehingga seburuk apa pun perilakunya, selalu masih ada peluang untuk diperbaiki.











DAFTAR PUSTAKA

Maimunah Hasan. 2009. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Panduan Lengkap Manajemen Mutu Pendidikan Anak Untuk Para Guru dan Orang Tua. Yogyakarta : DIVA Press.
Ahmad Susanto. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini (Pengantar dalam Berbagai Aspek). Jakarta : Kencana.
Anita Yus. 2011. Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana.
Agus Wibowo. 2012. Pendidikan Karakter Usia Dini (Strategi Membangun Karakter Di Usia Emas). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Soeseno Bachtiar. 2012. Buku Pintar Memahami Psikologi Anak Didik (Panduan Sukses Menjadi Guru Teladan dan Profesional. Yogyakarta: Pinang Merah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar