TUGAS
OBSERVASI
BIMBINGAN
DAN KONSELING DI PAUD
ANAK
YANG SUKA MEMUKUL
DI
SUSUN OLEH :
Nama
: Faustina Bewu
Nim
: 1205125093
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS
MULAWARMAN
TAHUN
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas
kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi
kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah ini merupakan salah
satu dari tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling di PAUD. Tidak lupa saya
ucapkan terimakasih kepada dosen dan teman-teman yang telah memberikan dukungan
dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...
Samarinda, 15 Desember 2013
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan
konseling merupakan terjemahan dari istilah “guidance” dan “counseling”
dalam bahasa Inggris. Secara harfiah istilah “guidance” berasal dari
akar kata “guide” yang berarti : (1) mengarahkan (to direct), (2)
memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to
steer). Sedangkan ”counseling”
menurut Shertzer dan Stone dalam
Fundamentals of Guidance (1981) (Yusuf, 2009).
[1][1] Konseling adalah proses interaksi
antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya
sehingga pada akhirnya konseli mampu membuat keputusan dan/atau menentukan
tujuan dan memilih nilai untuk perilakunya di masa depan. Definisi tersebut dipertegas dalam Panduan Pengembangan Diri (Permendiknas No. 22 Tahun
2006) yang menyebutkan pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan
kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan
pengembangan karir. Pelayanan bimbingan dan konseling memfasilitasi
pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok sesuai dengan
kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang
yang dimiliki. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses
berkembang yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai
kematangan tersebut individu memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
karena mereka masih kurang memiliki pemahaman dan wawasan tentang diri dan
lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Bimbingan
dan konseling dalam satuan jalur pendidikan formal penting, mengingat bahwa
perkembangan peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan akan
berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, misalnya perkembangan di PAUD/TK/RA akan
berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, dimana perkembangan di
SD/MI-SMP/MTs-SMA/MA/SMK, dan PT sangat ditentukan oleh bagaimana keberhasilan
anak melampaui masa sekolahnya di PAUD/TK/RA.dan seterusnya
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian anak yang suka memukul
2. Apa penyebab anak suka memukul
3. bagaimana penanganan anak yang suka
memukul
BAB II
DASAR TEORI
Memukul merupakan reaksi alami saat
seseorang anak merasa kesal, marah, atau frustasi. Maka, tidak aneh jika di
usia ini anak-anak sering saling pukul. Hal ini bisa dimaklumi karena anak
belum tahu bagaimana cara yang tepat mengekspresikan rasa marah atau kesal,
mulai menyadari fungsi dan kekuatan tangannya. Dengan anak memukul, ia tahu
reaksi lawannya. Anak belum bisa bicara. Bicara adalah ekspresi verbal. Anak
yang belum bisa bicara menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan maksudnya,
anak memiliki kelebihan energi dan tidak tahu cara menyalurkannya, dan tidak
tahu akibat dari pukulannya terhadap korban.
Namun yang menjadi persoalan penulis
adalah terdapat anak dengan perilaku suka memukul orang lain. Seperti memukul
guru, dan memukul teman sebayanya. Sebut saja namanya Rayyan, dia berusia empat
Tahun, dan anak tunggal, dia dititipkan di TPA karena kedua orangtuanya sibuk
bekerja. Karena pola asuh yang diterapkan di TPA berbanding terbalik
dengan pola asuh di rumah sehingga memungkinkan anak bingung dalam
mendisiplinkannya di lingkungan sekitarnya. Pentingnya pola asuh keluarga
ini, akan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan sifat-sifat yang
melekat pada anak. Karena secara fitrah Allah tidak menciptakan hamba-Nya dalam
sifat-sifat buruk, tetapi dalam keadaan suci dan bersih. Namun, karena
kurangnya pendidikan dan perhatian, serta peringatan sejak dini dari orang tua,
maka sifat-sifat buruk timbul pada diri anak.
Maka apabila anak mempunyai
permasalahan, kita sebagai orang tua atau pendidik tidak boleh langsung
menyalahkan anak, berintropeksi terlebih dahulu. Pilihlah kata-kata yang tepat
bila ingin mengkritik anak. Perhatikan juga nada bicara kita. Untuk menanamkan
perilaku baik kepada anak, tentu harus dimulai dari kebiasaan dalam keluarga.
Seperti hubungan ibu dan ayah yang baik, pendidikan moral yang baik. Hal
tersebut merupakan modal awal bagi anak untuk punya perilaku dan perkataan yang
baik sehari-hari. Tanamkan pemahaman, anak-anak memang sedang dalam proses
belajar dan beradaptasi. Sehingga seburuk apa pun perilakunya, selalu masih ada
peluang untuk diperbaiki.
Berikut ini penulis akan berbagi
kepada pembaca bagaimana cara bijak mengatasi kebiasaan anak yang suka memukul:
1. Jangan Memukul Balik
Bagi sebagian orangtua, memukul
merupakan tindakan yang tepat untuk mendisiplinkan si kecil. Memukul atau
menampar anak adalah cara sederhana agar dia mau mengerti. Namun, memukul balik
bisa membuat anak menjadi bingung karena Anda menasihati mereka dengan cara
yang sama. Akan lebih baik bila Anda memperingatinya dengan tegas serta
memberikan dia konsekuensi yang mendidik.
2. Cari Tahu Apa Pemicunya
Bila anak Anda sering memukul,
perhatikan apa pemicu sebenarnya. Apakah dia melakukan itu karena lelah, bosan,
lapar, atau marah? Selain itu, bisa jadi dia juga terpengaruh oleh lingkungan
keluarga atau sekelilingnya. Untuk mengatasi hal ini, coba perhatikan anak saa
bermain lalu amati reaksinya terhadap anak-anak lain. Pastikan kalau dia tidak
memukul, terutama ke wajah. Cara ini bisa membantu Anda mengurangi sikap anak
yang suka memukul.
3. Tunjukkan Cara Berkomunikasi yang
Baik
Dalam kebanyakan kasus, anak-anak
sebenarnya tidak memukul orangtua karena marah atau frustasi, tapi karena
mereka ingin mendapatkan perhatian lebih dari Anda. Kunci untuk mengubah
perilaku buruk tersebut dengan menunjukkan cara berkomunikasi yang baik.
Sebagai contoh, kalau anak Anda kesal, lalu memukul, sebaiknya Anda cepat
merangkul serta memeluknya. Beritahukan bagaimana cara menepuk lengan atau
wajah dengan lembut. Ingat, mengubah kebiasaan si kecil memang butuh kesabaran.
4. Buatlah Komunikasi yang
Menyenangkan
Beberapa anak memiliki kebiasaan
alami untuk menggunakan tangan mereka sebagai alat komunikasi. Maka dari itu,
Anda perlu mengajari mereka dengan membuat komunikasi yang menyenangkan.
Misalnya, begitu dia ingin memukul, cepat intervensi dengan menggerakkan tubuh
dan katakan 'ayo tos'. Hal itu akan membuat si kecil bingung, bisa jadi
tersenyum dan tidak menjadi melakukannya. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan
buruk anak seiring berjalannya waktu.
5. Sediakan Banyak Waktu untuk
Anak
Luangkan waktu yang banyak agar bisa
mengubah kepribadian si kecil. Sering-seringlah memeluk serta mengajak mereka
bermain agar dia semakin dekat dengan Anda. Ajarkan dia menggunakan tangan
secara lembut hingga anak benar-benar bisa mempraktekannya.
BAB
III
PEMBAHASAN
1.
Analisis
a.
Biodata siswa
Nama anak : Bintang
Usia : 4 tahun (ponakan teman)
Alamat : Kabupaten Paser,kecamatan Long Ikis
Anak ke : pertama
Agama : katolik
Makanan kesukaan : bakso
Minuman kesukaan : es jeruk
Nama orang tua : Abraham
Umur : 32
Agama : kahtolik
Hobby : main volly
Alamat : kabupaten paser,kecamatan
Long Ikis
b.
Tingkah laku kebiasaan Bintang yaitu
suka memukul teman nya
2.
Sintesis
Dari hasil analisis tentang Bintang yang
suka memukul teman nya ternyata karena dia merasa iri dan tidak suka dengan
sikap dari teman nya,contoh nya ketika Bintang memiliki barang seperti pentolan
maka teman nya mau berteman dengan dia sedang kan jika dia tidak memiliki
apa-apa teman nya pun menjauh dari dia dan terkadang malah mengejek dia
sehingga dia sering memukul teman-teman nya tersebut dan itu tidak terjadi pada
teman-teman nya tersebut saja tapi juga dengan teman-teman nya yang ia tidak
sukai maka ia tidak segan-segan untuk memukul mereka.
3.
Diagnosis
Penyebab utama nya yaitu factor pola
asuh
Karena Bintang kurang mendapat kan kasih
sayang dari orang tua nya sebab dari kecil Bintang sudah tinggal bersama kakek
dan nenek nya.
Di rumah Bintang juga tinggal bersama
paman nya dan sering di perlakukan kasar oleh paman nya tersebut,seperti
membentak-bentak,caci-maki,suka memaksa Bintang jika Bintang tidak mau
mendengar apa yang di katakan oleh orang yang lebih dewasa dari dia,seperti
kakek dan nenek nya serta paman dan bibi nya.
Contoh lain yang sering di paksa oleh
paman nya adalah memaksa Bintang tidur siang pada hal bintang tidak ngantuk dan
ingin main di luar rumah dan paman nya pun melarang dan akhir nya Bintang pun
takut kepada paman nya tersebut dan hanya diam dan menuruti perkataan paman
nya.
4.
Prognosis
Pertama, saat anak memukul hentikkan
segera!
Jangan biarkan dia berlanjut memukul teman nya dan katakan pada nya
dengan tenang tapi tegas bahwa teman nya
merasa sakit jika di pukul.
Kedua,mengajak anak bicara untuk
menemukan konsekuensi apa yang mungkin anak dapatkan saat anak mengulangi
perbuatan memukulnya tersebut. Seperti memisahkan mereka dan tidak
mempertemukan mereka dulu selama 30 menit dan mengatakan bahwa perbuatan nya
tidak di sukai oleh teman nya maupun TUHAN.
Ketiga, memberikan pengertian
bahwa memukul itu akan menyakiti orang lain.
5.
Treadmen
1)
mendampingi dan melatih anak untuk
bisa mengontrol emosi dan menunjukkan ekspresinya.
2)
Memberitahu
paman nya bahwa Anak tak perlu dimarahi atau dihukum ketika memukul orang lain.
Tapi tidak berarti itu boleh dibiarkan, karena anak tetap perlu belajar
mengendalikan diri.
3)
berbicara kepada orang tua tempat
anak tinggal anak harus belajar untuk meminta maaf sendiri bukan dengan
paksaan. Tujuannya agar anak memahami kesalahan yang dilakukan sehingga tidak
mengulangi kembali.
4) Memberikan saran kepada orang tua Tiap
kali ia memukul tahanlah ia agar tak
bermain sejenak
5)
Memberi tahu kepada orang tua agar tidak marah. Dan memperingati, kemarahan mereka (apalagi
jika mereka sampai berteriak atau memukul agar ia mengerti betapa tak enaknya
dipukul ) justru akan jadi contoh yang jelas bagi anak tentang cara
melampiaskan kemarahan.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan
dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perhatian dan kasih sayang
merupakan kebutuhan mendasar bagi anak. Lingkungan rumah berfungsi sebagai
tempat berlindung Dengan kata lain, lingkungan keluarga memiliki andil besar
dalam perkembangan psikologi anak.
Kita
sebagai orang tua juga tidak boleh berkata kasar kepada anak seperti
caci-maki,,memaksa,,memarah dan membentak anak karena mereka akan meniru apa
yang kita lakukan kepada mreka.
B.
Saran
Apabila
anak mempunyai permasalahan, kita sebagai orang tua atau pendidik tidak boleh
langsung menyalahkan anak, berintropeksi terlebih dahulu. Pilihlah kata-kata
yang tepat bila ingin mengkritik anak. Perhatikan juga nada bicara kita. Untuk
menanamkan perilaku baik kepada anak, tentu harus dimulai dari kebiasaan dalam
keluarga. Seperti hubungan ibu dan ayah yang baik, pendidikan moral yang baik.
Hal tersebut merupakan modal awal bagi anak untuk punya perilaku dan perkataan yang
baik sehari-hari. Tanamkan pemahaman, anak-anak memang sedang dalam proses
belajar dan beradaptasi. Sehingga seburuk apa pun perilakunya, selalu masih ada
peluang untuk diperbaiki.
DAFTAR PUSTAKA
Maimunah Hasan. 2009. PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini) Panduan Lengkap Manajemen Mutu Pendidikan Anak
Untuk Para Guru dan Orang Tua. Yogyakarta : DIVA Press.
Ahmad Susanto. 2011. Perkembangan
Anak Usia Dini (Pengantar dalam Berbagai Aspek). Jakarta : Kencana.
Anita Yus. 2011. Model Pendidikan
Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana.
Agus Wibowo. 2012. Pendidikan
Karakter Usia Dini (Strategi Membangun Karakter Di Usia Emas). Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Soeseno Bachtiar. 2012. Buku Pintar
Memahami Psikologi Anak Didik (Panduan Sukses Menjadi Guru Teladan dan
Profesional. Yogyakarta: Pinang Merah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar