Minggu, 15 Desember 2013

Anak Penakut



LAPORAN
           PENGAMATAN DAN PRAKTEK PENERAPAN BIMBINGAN 

                                            KONSELING PADA ANAK





 
 
  
DI SUSUN OLEH :

NAMA : Jilia Yusdah
NIM : 1205125077
KELAS : PAUD A SORE 2012





PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN

                                                                                

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karna atas rahmat-Nya lah makalah ini dapat dapat terselesaikan.
Didalam proses persiapan, observasi dan pembuatan makalah ini tidak apat terlepas dari bantuan berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung turut menunjang penyelesaian makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karna out segala sarang dan kritik yang membangung sangat penyusun harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.



Samarinda , 15 Desember 2013

                                                                                    Penyusun








DAFTAR ISI
Cover……………………………………………………………………………..1
Kata pengantar……………………………………………………………………2
Daftar isi…………………………………………………………………………..3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………………………………4
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………5
C.     Tujuan…………………………………………………………………….5
BAB II DASAR TEORI
A.    Pengertian Anak Penakut………………………………………………..6
B.     Penyebab Anak Menjadi Takut………………………………………….6
C.     Penyelesaian masalah……………………………………………………7
D.    Mendidik anak yang penakut……………………………………………8
BAB III PEMBAHASAN
A.    Analisis ………………………………………………………….........…10
B.     Sintesis  …………………………………………………………….........11
C.     Diagnosa …………………………………………………………...........11
D.    Prognosis …………………………………………………………...........11
E.     Treatment …………………………………………………………..........11
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………............13
B.     Saran ………………………………………………………………..........13
DAFTAR PUSTAK.............................................................................................14

                                                                               

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995)
Bimbingan dan konseling merupakan  upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
Bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks  adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan peserta didik. (Naskah Akademik ABKIN, Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, 2007).
     Merujuk pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebutan untuk guru pembimbing dimantapkan menjadi ’Konselor.” Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur  (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting layanan spesifik yang mengandung keunikan dan perbedaan.




B.     Umusan Masalah
1.      Apa saja karakteristik anak penakut ?
2.      Apa saja yang menyebabkan anak menjadi penakut ?
3.      Apa saja treatmen yang bisa diberikan kepada anak penakut, agar mereka tidak menjadi penakut lagi ?
4.      Apa saja perubahan yang terlihat pada anak ?


C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa saja karakteristik anak penakut .
2.      Untuk mengetahui apa saja penyebab anak menjadi takut.
3.      Untuk mengetahui apa saja treatmen yang diberikan kepada anak,agar mereka tidak menjadi takut lagi.
4.      Untuk mengetahui perubahan apa saja yang telah terlihat oleh anak setelah melakukan treatmen.










                                                                              

BAB II
DASAR TEORI
A.    Pengertian Anak Penakut
Ketakutan adalah suatu reaksi emosi yang timbul karena adanya ancaman yang ada di benaknya. Ungkapan perasaan ini dapat menyatakan adanya ketidak seimbangan dalam jiwanya, misalnya menjadi cemas dan gugup, atau juga menyatakan reaksi fisiknya seperti jantung yang berdebar cepat. Kadang-kadang dengan hati yang penuh ketakutan dapat menghindarkan diri dari bahaya dan menolong diri untuk tetap berusaha memiliki semangat hidup.
Rasa takut sendiri sebenarnya adalah hal normal, dan hal yang dapat dipahami. Justru rasa takut inilah yang membuat anak dan kita sendiri menjadi terhindar dari berbagai bahaya. Secara tidak sadar bahkan kita sebagai orang tua sering kali mengajarkan anak untuk takut. Sering kita berkata “ Awas nanti jatuh”, dengan berkata seperti itu sebenarnya kita mengajarkan anak untuk menggunakan rasa takutnya agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu bahkan berhati-hati dalam segala hal.

B.     Penyebab Anak Menjadi Takut
Ketakutan pada diri anak bisa disebabkan oleh beberapa hal :

a.      Takut akan kegelapan
     Biasanya ketakutan akan kegelapan timbul ketika orang tua mengharuskan anak tidur dalam kamarnya yang benar-benar gelap, atau bila anak terbangun ditengah malam, dalam keadaan kamarnya gelap gulita.

b.      Takut pada binatang
     Ketakutan pada binatang atau serangga hamper dialami oleh setiap anak kecil, namun biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring pertambahan usianya..

c.       Takut pada petir / kilat
     Peristiwa yang berkaitan dengan factor penyebabnya petir sering ditayangkan di layar TV dan sangat mempengaruhi baik anak maupun orang dewasa yang menyaksikan. Petir dengan suara yang keras juga merupakan fenomena alam yang menakutkan.

d.      Takut pergi ke dokter
     Banyak anak takut pergi ke dokter umum atau dokter gigi. Oleh sebab itu banyak dokter yang dengan bermacam upaya mengusahakan supaya anak dapat merasa tenang dan nyaman sewaktu diperiksa.

e.       Takut terhadap orang lain.
     Takut terhadap orang lain merupakan pengalaman yang harus ditempuh oleh anak pada masa pertumbuhannya.. Orang tua maupun guru di sekolah harus dengan sabar mendorong anak untuk bergaul dengan orang yang dianggap asing sampai akhirnya berkenalan dan menjalin hubungan baik dengannya.


f.       Takut terhadap benda aneh
     Anak kecil penuh dengan daya imajinasi dan masalah akan timbul bila daya imajinasinya dikuasai oleh ketakutan. Mereka sering takut terhadap benda / binatang yang aneh karena ia membandingkan apa yang ada dalam pikirannya tentang cerita hantu, nenek sihir dsb. Mereka belum mampu membedakan antara yang khayal dan yang nyata.

g.      Cerita-cerita yang menyeramkan
     Cerita-cerita seperti ini pada dasarnya akan membuat anak menjadi penakut, oleh sebab itu akan lebih baik jika cerita-cerita seperti ini diganti dengan cerita-cerita kepahlawanan. Namun berbeda bagi anak yang super pemberani terkadang memang perlu dibuat ada sesuatu yang ditakuti untuk dapat mengontrol kelakuannya. Kendati demikian hal tersebut adalah langkah terakhir.

h.      Perlakuan kasar dari orang tua
     Seringnya anak menerima hukuman yang berat serta ancaman terus-menerus akan membentuk mental anak yang penakut. Apalagi jika penerapan hukuman tersebut dalam keadaan emosi masih labil. Baca kembali “Seni Menjatuhkan Hukuman”. Sikap seperti ini sangat perlu diganti dengan membangun komunikasi yang aktif kepada anak.

i.        Meniru kebiasaan Ibu yang penakut
     Kehidupan anak terbesar umumnya adalah bersama ibu. Jadi adalah suatu kemungkinan besar mereka akan meniru kebiasaan ibu yang penakut tersebut. Oleh sebab itu sebaiknyalah sang ibu jangan menunjukkan rasa takutnya di hadapan anak.


C.     Penyelesaian masalah
              Rasa takut merupakan perasaan yang pasti dimiliki oleh semua orang. Akan tetapi apabila rasa takut itu dialami secara berlebihan, pasti akan menjadi suatu masalah.lalu bagaimana penyelesaiannya adalah sebagai berikut:

a.       Menguasai Lingkungan
       Mengatur suatu lingkungan pengalaman yang menyenangkan supaya perasaan ketakutan secara perlahan-lahan menjadi hilang. Misalnya anak takut gelap, biarkan dia perlahan-lahan mendekati sendiri kegelapan itu, berman tutup mata untuk mencari sesuatu, atau dengan memasang lampu yang bersinar lembut untuk mendampingi mereka tidur malam.

b.      Meredakan keteganga.
       Untuk menenangkan emosi yang sedang mencekam, suruh anak menarik nafas panjang, kemudian tangan diulur kedepan sambil dikepalkan dan diam sejenak, selanjutnya angkat kaki kiri dengan kedua tangan dieratkan dan diamkan sejenak, lalu ganti kaki kanan dan lakukan gerakan tadi. Ulangi terus sampai anak merasa tenang dan tidak tegang lagi.

c.       Menggunakan daya imajinasi
       Anak dibimbing untuk berimajinasi bagaimana Tuhan menemani mereka ke dokter atau pada waktu duduk di kursi dokter gigi.

d.      Mempelajari sesuatu melalui observasi
      Observasi mengurangi rasa takut dan gugup, dengan menyuruh mereka belajar dari teman sebaya sewaktu menghadapi situasi yang sama, tetapi tidak takut, atau dengan menyaksikan film di acara teve di mana anak-anak dapat menghadapi situasi yang tegang tetapi tetap dapat tenang.

e.       Menjelaskan konsep dengan tepat
       Salah dalam menggunakan daya imajinasi atau kurangnya pengetahuan umum dapat membuat anak takut pada sesuatu yang belum diketahuinya. Memberikan penjelasan tentang asal mula gejala-gejala yang membuat mereka takut akan sangat menolong mereka.

f.       Memberikan pujian
       Mungkin saja pemberian pujian pada anak dapat mengurangi rasa takut. Pujian seperti ucapan-ucapan yang memotivasi mereka atau memberikan hak/kewenangan.
Misalnya , bila ia berani melakukan apa yang tadinya ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang atau diperbolehkan bermain lebih lama.

D.    Mendidik anak yang penakut
              Kemampuan berpikir anak masih sangat sederhana oleh sebab itu mereka terkadang menyalahgunakan keberanian untuk hal-hal yang tidak baik. Misalnya berkelahi, merebut mainan teman dan lain-lain. Kesalahan dalam cara mendidik tentu saja akan menimbulkan efek yang buruk pada diri anak. Kejadian seperti beginilah yang pada umumnya membuat anak terhambat dalam berbuat kebaikan. Oleh sebab itu kiranya sangat perlu bagi orang tua ataupun guru untuk mengetahui sikap atau teknik mendidik penghambat kebaikan anak. Setidaknya ada 7 teknik pendidikan yang menghambat anak dalam berbuat kebaikan. 7 teknik tersebut antara lain :

1)      Kekurang sabaran terhadap anak
        Orang tua yang tidak sabar menginginkan perubahan yang instan pada diri anak. Akibatnya sang anak akan melakukan perubahan di depan orang tua atau guru, namun ia akan mencuri kesempatan untuk berbuat yang sebaliknya dibelakang orang tuanya.
Perubahan yang baik bagi anak terjadi karena adanya perubahan pemahaman sang anak. Hal ini membutuhkan waktu yang relatif tidak sama bagi setiap anak. Ada yang cepat namun ada juga anak yang lambat. Perbedaan ini harus diketahui oleh orang tua atau guru.

2)      Tidak adanya suasana penuh cinta dan dorongan dari orang tua atau guru.
Sifat utama anak adalah mudah mendapat sugesti, hal ini dikarenakan banyak hal yang ia ingin ketahui dan ia lebih percaya kepada orang dewasa, dalam hal ini orang tua atau guru ( untuk anak usia TK biasanya lebih percaya kepada guru ). Suasana penuh cinta dan dorongan dapat diwujudkan dengan meluangkan waktu untuk bermain dengan anak, berdiskusi dengan mereka, dan memberikan penghargaan jika mereka berbuat baik dan memberika pemahaman ketika berbuat salah.

3)      Terlalu besar mengharapkan perubahan prilaku anak ke arah yang lebih baik.
Pengharapan yang terlalu besar membuat orang tua atau guru menjadi berlaku over atau berlebihan. Sikap yang berlebihan terhadap anak banyak menimbulkan permasalahan bagi anak. Orang tua yang over protektif akan melemahkan mental anak sehingga anak membiasakan diri untuk selalu tergantung pada orang tuanya, Ia akan sulit untuk mandiri. Anak yang selalu kena marah juga akan merusak mental anak sehingga ia menjadi anak yang tidak percaya diri dan menjadi anak pemimpi atau penghayal.

4)      Keinginan terlalu besar menjalankan aturan. Sifat alami anak adalah bermain dan bebas. Ia butuh waktu yang lama untuk memahami aturan peraturan. Perubahan anak tidak bisa dibuat dengan serba instan. Keadaan seperti ini haruslah dimengerti oleh orang tua atau guru atau orang dewasa. Keinginan orang tua yang terlalu besar untuk menjalankan aturan akan membuat anak merasa terkekang dan menghambat kreatifitas anak.

5)      Ketidak pahaman terhadap perasaan dan pandangan anak
        Anak-anak juga merupakan individu yang mempunyai nalar dan perasaan sendiri. Meskipun penalaran anak terkadang bertolak belakang dengan cara penalaran orang dewasa. Hal ini dikarenakan masih sederhanya sistem otak anak dan masih banyak pula hal baru yang perlu dieksplorasi anak. Terkadang sang anak dalam mengungkapkan keinginan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya ketika minta minum susu lagi ia hanya marah-marah saja dan menarik-narik ibunya. Oleh sebab itu sangat penting sekali dibangun komunikasi antara anak dan orang tua.

6)      Menganggap anak bukan sebagai individu yang aktif dalam masyarakat.
        Anak juga menginginkan diakui keberadaannya dalam masyarakat. Ia juga ingin terlibat dalam kegiatan sosial dalam bermasyarakat. . Dengan keterlibatan mereka dalam masyarakat akan menimbulkan rasa percaya diri anak semakin meningkat. Sehingga ia tidak akan takut untuk bergaul dengan orang lain yang baru dikenal.

7)      Membawa persoalan pribadi ke dalam pergaulan dengan anak-anak
        Perasaan anak masihlah halus dan peka, namun ia masih sulit untuk mengkomunikasikan tentang perasaannya. Ketika takut dan khawatir mereka hanya tahu menangis dan berteriak-teriak. Di dalam mendidik anak tidak hanya perlu mengetahui tujuan yang akan dicapai tapi juga perlu memahami naluri anak. Meskipun setiap anak mempunyai naluri yang berbeda namun secara garis besar naluri mereka tetap sejalan.





BAB III

PEMBAHASAN

A.   Analisis

1.      Identitas Anak
Nama Lengkap                              : Ikbal Nurfaitsal
Nama Panggilan                            : Ikbal
Tempat Tanggal Lahir                   : Samarinda, 03 Mey 2008
Alamat Asal                                  : Jl. Mogonsidi Gg 02 No 01 Samarinda
Anak ke                                         : 2 (Dua)
Agama                                           : Islam
Makanan kesukaan                        : Bakso
Minuman kesukaan                       : Susu

2.      Identitas Orang Tua
Nama orang Tua                            : Darmansyah
Alamat Orang Tua                                    : Samarinda
Agama                                           : Islam
Hobby                                           : Sepak bola
Masalah yang di alami anak          : Ikbal anak yang penakut, jika mendengar orang berteriak dan membentaknya dia akan menangis.









B.     Sintetis
Berdasarkan analisis yang saya buat melalui wawancara langsung kepada orang tua ikbal, maka kesimpulan sementara adalah ikbal termasuk anak yang penakut. Ikbal jarang berbicara dengan temannya dikelas, dia juga kurang suka bermain. Jika sedang belajar dalam kelas, ikbal lebih suka diam dan jika ditanya gurunya dia hanya mengelengkan kepalanya dan jarang melakukan aktivitas seperti taman-teman lainnya.
Ikbal menangis jika mendengar orang berteriak dan membentaknya, sehingga hubungannya dengan temannya pun kurang akrab, dan dia tidak mau bermain dengan mereka. Jika saya memperhatikan ikbal dia tidak mau melihat saya dan selalu menundukan kepalanya, mukanya pun tampak murung, tegang dan ketakutan.

C.    Diagnosa
            berdasarkan analisis dan sintetis dari pengamatan yang saya lakukan serta berdasarkan kepada teori yang saya pelajari, penyebab utama ikbal menjadi anak yang penakut adalah factor otang tua. Karna orang tua ikbal sering membentak ikbal dan meneriakinya jika ia melakukan kesalahan kadang juga memukuli ikbal.

D.    Prognosa
Penanganan awal yang saya lakukan pada permasalahan yang dihadapi ikbal adalah mendekati dia dan mengajaknya berbicara meskipun ikbal terlihat sangat takut ketika saya mengajaknya berbicara, lama-kelamaan ikbal mau mau juga diajak berbiara meski jawaban dari ikbal hanya iya dan tidak mau.
            Pelan-pelan saya merayu ikbal untuk mau bermain bersama saya, pertama ikbal selalu menolak tetapi lama-kelamaan ikbal tertarik juga untk bermain bersama saya. Jika ada hari libur saya selalu mengajak ikbal bermain dan mengajaknya berbicara. Lama-kelamaan ikbal tidak menunduk jika diajak berbicara dan muka ikbal lebih kelihatan riang.

E.     Treatmen      
Saya mulai kegiatan tanggal 20 N0vember 2013 ikbal adalah anak dari teman tante saya, sehingga saya lebih gampang untuk mengamatinya. Sebenarnya maksud orang tua ikbal baik, cuman cara mendidiknya kurang baik,karna jika ikbal malas belajar orang tuanya selalu membentak dan kadang memukulinya. Saya pun melakukan penjelasan sedikit kepada orang tua ikbal bahwa dengan kekerasan mendidik anak hanya akan membuat perkembangan anak memburuk.
            Setelah melakukukan pendekatan kepada ikbal dan selalu mengajaknya bermain dan berbicara kini ikbal tidak takut lagi berbicara dan bermain,  jika ada waktu saya selalu mengajak ikbal bermain dengan anak tante saya agar ikbal mau bersosialisasi dengan lingkuganya, kini ikballah yang selalu mengajak saya untuk bermain dan berbicara dan dia lebih berani mengungkapkan perasaannya jika terjadi sesuatu kepadanya dan saya memberikan dukungan dan empati kepada ikbal.
            Dan saya juga menayakan ikbal kepada gurunya, kini sudah banyak perubahan terhadap prilaku ikbal, kini dia sudah sangat akrab dengan teman-temannya, dan juga dulunya ikbal jika ditanya oleh gurunya hanya geleng kepala, sekarang ikbal sudah berani menjawab semua petanyaan gurunya dan berani untuk maju kedepan dia pun tidak takut lagi jika ada orang yang berteriak didekatnya.













BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Anak penakut sering menghindar jika diajak berbicara, dan selalu tertunduk dan tidak sanggup untuk melihat orang yang berbicara dengan mereka dan akhirnya menangis. Dalam berhubungan sosial mereka biasanya lebih banyak diam, jika ditanya mereka hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab iya dan tidak saja.
Anak yang penakut tampak kurang ramah, dan jika mendengan suara yang gaduh mereka sangat tidak suka.

B.   Saran
Hanya inilah makalah yang dapat saya buat, dan tidak lupa saya mengucapkan syukur kepada Allah karna atas rahmat Nyalah saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Dan saya juga sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca,dengan kritik dan saran dari pembacalah saya dapat mengetahui kekurangan dan kesalahan saya salam menulis makalah ini.




















DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar