MAKALAH
BIMBINGAN DAN KONSELING DI PAUD
“ ANAK PEMARAH “
Di
susun Oleh
Nama : Fransiska fetriana
Kelas : A Sore
Nim : 1205125080
Dosen
: Rahman, S.pd, M.Pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
TAHUN 2012/2013
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Bahwa saya telah menyelesaikan Makalah
“ bimbingan dan konseling di PAUD” tentang Anak Pendiam dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit
hambatan yang saya hadapi namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam
penyusunan ini tidak lain berkat bantuan dorongan dan bimbingan teman teman
sehingga kendala-kendala yang saya hadapi teratasi.
Oleh
karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah memberikan
tugas petunjuk kepada saya sehingga saya termotivasi dan menyelesaikan tugas
ini dan kepada teman-teman yang sedikit membantu dan mengatasi berbagai
kesulitan sehingga Makalah ini selesai.
Semoga
Makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan khususnya bagi saya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Samarinda, 15 Desember 2013
Penyusun
ii
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................... ii
Daftar Isi ......... iii
Bab I. Pendahuluan.......................................................................................... 1
1) Latar
Belakang..................................................................................... 1
2)
Rumusan Permasalahan................................................................................ 2
Bab II. Dasar Teori……………………………………………………………. 3
A. Anak
Pemarah……………………………………………………………
4
B. Perlakuan
anak…………………………………………………………. 5
Bab III. Pembahasan………………………………………………………….. 6
Bab VI Penutup………………………………………………………………. 7
1)
Kesimpulan…………………………………………………………… 7
2) Daftar
Pustaka………………………………………………………………… 8
iii
BAB I
Pendahuluan
1. Latar
Belakang
A. Pengertian Bimbingan Konseling
Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan
konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun
demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa
bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
1. Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah
bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang
dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri,
memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang
lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004:
99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang
ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja,
atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana
yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2. Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan
bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu
atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan
hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.
Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94),
mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk
lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.
1
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara
tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan
kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam
hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan
kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan
potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat.
Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan
menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 :
101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling
merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih
dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang,
meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk
membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup
hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
3)
Pengertian Bimbingan Konseling
Dari semua pendapat di atas
dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui
wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada
individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara
pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan
berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau
kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai
perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang
lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
2. Rumusan Permasalahan
2
Bab
II
Dasar Teori
A.
Anak Pemarah
Anak pemarah merupakan
masalah bagi orang tua, bayangkan saja anak selalu marah-marah jika
permintaannya tidak dituruti, bagaimana pusingnya orang tua dalam menghadapi
anak yang seperti itu? Jika anak sedang emosi atau marah biasanya dilampiaskan
dengan cara membanting pintu, melempar sesuatu, menendang meja, mengacaukan
segala hal dan berteriak-teriak penuh kemarahan. Rasa marah bisa timbul
akibat banyak sebab, termasuk yang terjadi pada anak-anak. Terkadang orangtua
ikut kesal jika anak selalu bertindak marah-marah.
Pada rentang usia tertentu, kemarahan yang
tiba-tiba memang biasa dan wajar dialami oleh anak-anak. Mereka bisa marah
karena sebab apa pun, bahkan yang menurut orangtua sebab-sebabnya remeh.
Kemarahan yang seperti ini diberi istilah temper tantrum atau tantrum
saja. Masa – masa anak mengalami temper tantrum biasanya pada usia 2-5 tahun
atau masa-masa prasekolah.
Perkembangan bahasanya masih terbatas,
sehingga saat ia mengalami emosi ia belum paham bagaimana cara
mengekpresikannya. Devi Ayutya Wardhani, M.Psi, menjadi konsultan di
Lembaga Psikologi Terapan Univesitas Indonesia. Menjelaskan Ada dua jenis
ekspresi kemarahan. Pertama, reaksi marah yang implusif atau agresif, seperti
perilaku menendang, melempar dan berguling – guling. Kedua, reaksi marah yang terhambat.
Anak dengan kemarahan yang terhambat, pada saat dia marah dia akan cendrung
menarik diri dan menghindari orang yang menyebabkan dia marah.
Kalau anak kecil itu justru yang sehat adalah
kemarahan yang keluar tadi. Kalau pada saat dia marah, dia malah akan menarik
diri,diam, orang tak akan tahu apa yang dia rasakan. Dalam kondisi seperti ini,
justru harus mencari penyebab kenapa anak ini tak bisa mengepresikan emosinya.
Apa kira-kira yang menghambat dia. Karena normalnya anak-anak itu adalah mahluk
yang paling jujur dan spontan, hingga apa yang ada dalam pikirannya lasung
dikeluarkan.
3
B. Menangani Kemarahan Anak
Perilaku anak yang gampang marah ini, apalagi
bila telah melewati masa temper tantrum, tentu tak bisa dibiarkan. Orang-orang
disekeliling anak tentu tak merasa nyaman dengan sikap ini. Tak ada perilaku
yang tidak bisa diubah. Bahkan walaupun merupakan keturunan, sifat pemarah bisa
diarahkan keperilaku yang lebih baik. Devi memberi beberapa poin penting yang
mesti diperhatikan orang tua dalam menangani sifat pemarah anak.
Pertama, berikan contoh bagaimana menyalurkan
kemarahan dengan cara positif. “Apa yang dilihat dan didengar anak setiap hari,
itulah yang diserap dan diterapkannya. Kalau mau anak ini berubah, ya suasana
rumahnya juga harus berubah. Sebisa mungkin anak dijauhkan dari lingkungan yang
negative sehingga mereka punya model yang bagus untuk perilaku mereka.
Kedua, binalah selalu komunikasi yang baik
dengan anak. Dengan komunikasi yang lancar dalam kondisi apapun anak tetap bisa
mengungkapkan perasaan dan emosinya kepada orang tua, walaupun yang ingin
diungkapkan kemarahan. Dalam suasana ini pula anak bisa dengan mudah diajak
untuk belajar mengelola amarahnya dengan cara yang lebih baik, tidak
meledak-ledak dan melemparkan barang. Selain mengelola amarah, ajarkan anak
untuk memecahkan masalah tersebut.
Ketiga, menahan diri agar jangan ikut
terpancing marah. Menghadapi anak yang sedang marah, bisa memancing kemarahan
orang tua juga. Sebaliknya, saat anak marah, biarkan sejenak . sementara kita
menenangkan diri dulu, jangan sampai orang tua menangani anak yang marah dengan
kemarhan juga.
Memang tidak mudah menghadapi anak yang
gampang marah, kesabaran dan konsistensi adalah kuncinya
Apa sih yang
menyebabkan anak marah? Dari penelitian dan pendapat ahli perkembangan anak,
alasan anak marah adalah untuk membuktikan bahwa mereka tidak suka diberikan
petunjuk dan sudah merasa dewasa. Dalam beberapa kasus, anak yang sedang marah
memiliki temperamen tinggi, sehingga dalam menunjukkan kemarahannya, anak bisa
menangis berlebihan, menjerit, bahkan melukai diri sendiri.
Berikut
beberapa strategi dalam mengendalikan anak yang pemarah.
4
1.
Taat peraturan
Orang tua sebaiknya tetap berpegang teguh pada aturan-aturan dasar tertentu. Jika anak tahu ada hal-hal tertentu yang tidak diterima oleh Anda, mereka tidak akan mencoba melakukannya. Anda juga sebaiknya memberikan alasan kuat atas keputusan tersebut.
2. Jangan berteriak atau memukul
Untuk menunjukkan bahwa Anda memiliki wewenang, janganlah berteriak atau memukul mereka sebab itu tidak ada gunanya. Jangan menanggapi perilaku buruk mereka karena anak akan tahu Anda memberikan perhatian dan mereka justru akan semakin menunjukkan amarahnya.
Orang tua sebaiknya tetap berpegang teguh pada aturan-aturan dasar tertentu. Jika anak tahu ada hal-hal tertentu yang tidak diterima oleh Anda, mereka tidak akan mencoba melakukannya. Anda juga sebaiknya memberikan alasan kuat atas keputusan tersebut.
2. Jangan berteriak atau memukul
Untuk menunjukkan bahwa Anda memiliki wewenang, janganlah berteriak atau memukul mereka sebab itu tidak ada gunanya. Jangan menanggapi perilaku buruk mereka karena anak akan tahu Anda memberikan perhatian dan mereka justru akan semakin menunjukkan amarahnya.
3.
Ketekunan adalah kunci
Jangan pernah merasa menyesal karena
tidak mampu memenuhi tuntutan anak.
Percayalah,anak akan berterima kasih
atas ketegasan Anda ketika mereka menjadi dewasa.
4. Jelaskan situasi kemudian
4. Jelaskan situasi kemudian
Setelah amarah anak mereda, buatlah
mereka mengerti bahwa marah-marah bukanlah perilaku yang baik, terutama untuk
usia anak-anak.Biarkan anak mendengarkan apa yang Anda katakan.Berbicaralah
dengan cara yang tenang dan perlakukan mereka dengan cinta dan kasih sayang.
5
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Analisis
Data Anak
Nama :
Thombos Andrian
Kelas : A 2
Tempat/tanggal/lahir : Samarinda, 17 maret 2009
Nama Orangtua : Alisa Marisa
Alamat Rumah : Jl.Pahlawan, Monginsidi RT 10 RW 5
Kabupaten Samarinda
B.
Sintesis
Dari hasil pengamatan yang telah
saya lakukan kepada Thombos, thombos termasuk anak yang pemarah. Jika kemauan
thombos tidak dituruti oleh orangtua nya ia akan marah-marah bahkan sampai memukul
dan mengigit orangtua nya. Begitu juga kelakuannya disekolah teman-teman nya
kurang mendekati dan menyukai thombos karena thombos selalu merampas makanan
atau mainan milik temannya tanpa meminta dan meminjam terlebih dahulu, dan
tidak mau mendengarkan gurunya.
C.
Diaknosis
Dari analisis dan sintesis yang saya
buat, penyebab thombos menjadi anak pemarah di karena kurangnya pola asuh
terhadap anak ini dan kurangnya perhatian dari orangtua, apa saja yang diminta
dari thombos harus dituruti.
D.
Proknosis
Langkah awal mendekati dan menangani
si thombos ini memang anak nya kurang mendengarkan apa yang saya katakan tetapi
saya mencoba pelan-pelan untuk mendekati dan mengajak dia berbicara dan
menanyakan namanya, walaupun dia menjawab tetapi tingkah laku nya masi saja
tidak diam dan ingin bermain. Setelah saya mencoba untuk berkenalan dengannya
saya mencoba lagi untuk menasehatinya,
dan memberitahukan kepadanya agar dia tidak boleh memarahi apa saja yang
dia perbuatkan kepada orangtuanya dan teman-temannya tanpa ada sebabnya, dan
jika dia ingin memiliki sesuatu yang dia mau harus bisa meminta baik-baik
kepada orang yang ada di sekitarnya.
E.
Treatmen
Langkah akhir yang saya tangani
kepada thombos ialah, saya mulai observasi Jum’at 6 Desember 2013 dan saya
berobsevasi d sekolah TK AL-kaustar Jl Angklung Samarinda, saya sudah mencoba
mendekatinya dan mengajak dia untuk menjadi anak yang tidak marah lagi tanpa
ada sebabnya. Dan dia mulai bisa di ajak bermain bersama dan mulai mau
mendengarkan apa yang saya katakan.
6
BAB VI
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah saya lakukan kepada Thombos, thombos
termasuk anak yang pemarah. Jika kemauan thombos tidak dituruti oleh orangtua
nya ia akan marah-marah bahkan sampai memukul dan mengigit orangtua nya.
Dari analisis dan sintesis yang saya buat, penyebab thombos menjadi anak
pemarah di karena kurangnya pola asuh terhadap anak ini dan kurangnya perhatian
dari orangtua, apa saja yang diminta dari thombos harus dituruti.
Langkah awal mendekati dan menangani si thombos ini memang anak nya
kurang mendengarkan apa yang saya katakan tetapi saya mencoba pelan-pelan untuk
mendekati dan mengajak dia berbicara dan menanyakan namanya, walaupun dia
menjawab tetapi tingkah laku nya masi saja tidak
diam dan ingin bermain.
Setelah saya mencoba untuk berkenalan dengannya saya mencoba lagi untuk
menasehatinya, dan memberitahukan
kepadanya agar dia tidak boleh memarahi apa saja yang dia perbuatkan kepada
orangtuanya dan teman-temannya tanpa ada sebabnya, dan jika dia ingin memiliki
sesuatu yang dia mau harus bisa meminta baik-baik kepada orang yang ada di
sekitarnya.
Dan dia mulai bisa di ajak bermain bersama dan mulai mau mendengarkan
apa yang saya katakan.
B. Saran
Sebaiknya orang tua mencoba
pelan-pelan untuk mendekati dan mengajak dia berbicara untuk menjadi anak yang
tidak marah lagi tanpa ada sebabnya.
8
DAFTAR PUSTAKA
9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar