Senin, 16 Desember 2013

Anak Pemarah



MAKALAH
BIMBINGAN DAN KONSELING DI PAUD
 “ ANAK PEMARAH “

Di susun Oleh
Nama               : Fransiska fetriana
Kelas                : A Sore
Nim                  : 1205125080

Dosen : Rahman, S.pd, M.Pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
TAHUN 2012/2013

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Bahwa saya telah menyelesaikan Makalah “ bimbingan dan konseling di PAUD” tentang Anak Pendiam  dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit hambatan yang saya hadapi namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan ini tidak lain berkat bantuan dorongan dan bimbingan teman teman sehingga kendala-kendala yang saya hadapi teratasi.
            Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah memberikan tugas petunjuk kepada saya sehingga saya termotivasi dan menyelesaikan tugas ini dan kepada teman-teman yang sedikit membantu dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga Makalah ini selesai.
            Semoga Makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan khususnya bagi saya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.



                                                                        Samarinda, 15 Desember 2013
                                                                       
Penyusun


                                                                    

                                                                     ii          


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... ii
Daftar Isi                                                                                                           ......... iii
Bab I. Pendahuluan..........................................................................................         1
1)      Latar Belakang.....................................................................................         1
2)      Rumusan Permasalahan................................................................................ 2
Bab II. Dasar Teori…………………………………………………………….      3
A.     Anak Pemarah……………………………………………………………             4
B.     Perlakuan anak………………………………………………………….               5
Bab III. Pembahasan…………………………………………………………..       6
Bab VI Penutup……………………………………………………………….       7        
1)      Kesimpulan……………………………………………………………      7
2)      Daftar Pustaka…………………………………………………………………    8




iii

BAB I
Pendahuluan
1.      Latar Belakang
A.    Pengertian Bimbingan Konseling

Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
1. Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2. Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.
                                                                   
1

B.      Definisi Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
3)      Pengertian Bimbingan Konseling
Dari semua pendapat di atas dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
2. Rumusan Permasalahan


2
                                                                      Bab II
Dasar Teori
A.    Anak  Pemarah
Anak pemarah merupakan masalah bagi orang tua, bayangkan saja anak selalu marah-marah jika permintaannya tidak dituruti, bagaimana pusingnya orang tua dalam menghadapi anak yang seperti itu? Jika anak sedang emosi atau marah biasanya dilampiaskan dengan cara membanting pintu, melempar sesuatu, menendang meja, mengacaukan segala hal dan berteriak-teriak penuh kemarahan. Rasa marah bisa timbul akibat banyak sebab, termasuk yang terjadi pada anak-anak. Terkadang orangtua ikut kesal jika anak selalu bertindak marah-marah.
Pada rentang usia tertentu, kemarahan yang tiba-tiba memang biasa dan wajar dialami oleh anak-anak. Mereka bisa marah karena sebab apa pun, bahkan yang menurut orangtua sebab-sebabnya remeh. Kemarahan yang seperti ini diberi istilah temper tantrum atau tantrum saja. Masa – masa anak mengalami temper tantrum biasanya pada usia 2-5 tahun atau masa-masa prasekolah.
Perkembangan bahasanya masih terbatas, sehingga saat ia mengalami emosi ia belum paham bagaimana cara mengekpresikannya.  Devi Ayutya Wardhani, M.Psi, menjadi konsultan di Lembaga Psikologi Terapan Univesitas Indonesia. Menjelaskan Ada dua jenis ekspresi kemarahan. Pertama, reaksi marah yang implusif atau agresif, seperti perilaku menendang, melempar dan berguling – guling. Kedua, reaksi marah yang terhambat. Anak dengan kemarahan yang terhambat, pada saat dia marah dia akan cendrung menarik diri dan menghindari orang yang menyebabkan dia marah.
Kalau anak kecil itu justru yang sehat adalah kemarahan yang keluar tadi. Kalau pada saat dia marah, dia malah akan menarik diri,diam, orang tak akan tahu apa yang dia rasakan. Dalam kondisi seperti ini, justru harus mencari penyebab kenapa anak ini tak bisa mengepresikan emosinya. Apa kira-kira yang menghambat dia. Karena normalnya anak-anak itu adalah mahluk yang paling jujur dan spontan, hingga apa yang ada dalam pikirannya lasung dikeluarkan.
                                                                 

3

B.     Menangani Kemarahan Anak

Perilaku anak yang gampang marah ini, apalagi bila telah melewati masa temper tantrum, tentu tak bisa dibiarkan. Orang-orang disekeliling anak tentu tak merasa nyaman dengan sikap ini. Tak ada perilaku yang tidak bisa diubah. Bahkan walaupun merupakan keturunan, sifat pemarah bisa diarahkan keperilaku yang lebih baik. Devi memberi beberapa poin penting yang mesti diperhatikan orang tua dalam menangani sifat pemarah anak.
Pertama, berikan contoh bagaimana menyalurkan kemarahan dengan cara positif. “Apa yang dilihat dan didengar anak setiap hari, itulah yang diserap dan diterapkannya. Kalau mau anak ini berubah, ya suasana rumahnya juga harus berubah. Sebisa mungkin anak dijauhkan dari lingkungan yang negative sehingga mereka punya model yang bagus untuk perilaku mereka.
Kedua, binalah selalu komunikasi yang baik dengan anak. Dengan komunikasi yang lancar dalam kondisi apapun anak tetap bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya kepada orang tua, walaupun yang ingin diungkapkan kemarahan. Dalam suasana ini pula anak bisa dengan mudah diajak untuk belajar mengelola amarahnya dengan cara yang lebih baik, tidak meledak-ledak dan melemparkan barang. Selain mengelola amarah, ajarkan anak untuk memecahkan masalah tersebut.
Ketiga, menahan diri agar jangan ikut terpancing marah. Menghadapi anak yang sedang marah, bisa memancing kemarahan orang tua juga. Sebaliknya, saat anak marah, biarkan sejenak . sementara kita menenangkan diri dulu, jangan sampai orang tua menangani anak yang marah dengan kemarhan juga.
Memang tidak mudah menghadapi anak yang gampang marah, kesabaran dan konsistensi adalah kuncinya
Apa sih yang menyebabkan anak marah? Dari penelitian dan pendapat ahli perkembangan anak, alasan anak marah adalah untuk membuktikan bahwa mereka tidak suka diberikan petunjuk dan sudah merasa dewasa. Dalam beberapa kasus, anak yang sedang marah memiliki temperamen tinggi, sehingga dalam menunjukkan kemarahannya, anak bisa menangis berlebihan, menjerit, bahkan melukai diri sendiri.
Berikut beberapa strategi dalam mengendalikan anak yang pemarah.


4
1. Taat peraturan
Orang tua sebaiknya tetap berpegang teguh pada aturan-aturan dasar tertentu. Jika anak tahu ada hal-hal tertentu yang tidak diterima oleh Anda, mereka tidak akan mencoba melakukannya. Anda juga sebaiknya memberikan alasan kuat atas keputusan tersebut.
2. Jangan berteriak atau memukul
Untuk menunjukkan bahwa Anda memiliki wewenang, janganlah berteriak atau memukul mereka sebab itu tidak ada gunanya. Jangan menanggapi perilaku buruk mereka karena anak akan tahu Anda memberikan perhatian dan mereka justru akan semakin menunjukkan amarahnya.
3. Ketekunan adalah kunci
Jangan pernah merasa menyesal karena tidak mampu memenuhi tuntutan anak.
Percayalah,anak akan berterima kasih atas ketegasan Anda ketika mereka menjadi dewasa.
4. Jelaskan situasi kemudian
Setelah amarah anak mereda, buatlah mereka mengerti bahwa marah-marah bukanlah perilaku yang baik, terutama untuk usia anak-anak.Biarkan anak mendengarkan apa yang Anda katakan.Berbicaralah dengan cara yang tenang dan perlakukan mereka dengan cinta dan kasih sayang.








5
BAB III
PEMBAHASAN
A.    Analisis
Data Anak
Nama                           : Thombos Andrian
Kelas                           : A 2
Tempat/tanggal/lahir   : Samarinda, 17 maret 2009


Nama Orangtua                       : Alisa Marisa
Alamat Rumah                        : Jl.Pahlawan, Monginsidi RT 10 RW 5 Kabupaten Samarinda
       
B.     Sintesis
Dari hasil pengamatan yang telah saya lakukan kepada Thombos, thombos termasuk anak yang pemarah. Jika kemauan thombos tidak dituruti oleh orangtua nya ia akan marah-marah bahkan sampai memukul dan mengigit orangtua nya. Begitu juga kelakuannya disekolah teman-teman nya kurang mendekati dan menyukai thombos karena thombos selalu merampas makanan atau mainan milik temannya tanpa meminta dan meminjam terlebih dahulu, dan tidak mau mendengarkan gurunya.
C.     Diaknosis
Dari analisis dan sintesis yang saya buat, penyebab thombos menjadi anak pemarah di karena kurangnya pola asuh terhadap anak ini dan kurangnya perhatian dari orangtua, apa saja yang diminta dari thombos harus dituruti.
D.    Proknosis
Langkah awal mendekati dan menangani si thombos ini memang anak nya kurang mendengarkan apa yang saya katakan tetapi saya mencoba pelan-pelan untuk mendekati dan mengajak dia berbicara dan menanyakan namanya, walaupun dia menjawab tetapi tingkah laku nya masi saja tidak diam dan ingin bermain. Setelah saya mencoba untuk berkenalan dengannya saya mencoba lagi untuk menasehatinya,  dan memberitahukan kepadanya agar dia tidak boleh memarahi apa saja yang dia perbuatkan kepada orangtuanya dan teman-temannya tanpa ada sebabnya, dan jika dia ingin memiliki sesuatu yang dia mau harus bisa meminta baik-baik kepada orang yang ada di sekitarnya.
E.     Treatmen
Langkah akhir yang saya tangani kepada thombos ialah, saya mulai observasi Jum’at 6 Desember 2013 dan saya berobsevasi d sekolah TK AL-kaustar Jl Angklung Samarinda, saya sudah mencoba mendekatinya dan mengajak dia untuk menjadi anak yang tidak marah lagi tanpa ada sebabnya. Dan dia mulai bisa di ajak bermain bersama dan mulai mau mendengarkan apa yang saya katakan.
6
BAB VI
PENUTUP

A.    Kesimpulan
     Dari hasil pengamatan yang telah saya lakukan kepada Thombos, thombos termasuk anak yang pemarah. Jika kemauan thombos tidak dituruti oleh orangtua nya ia akan marah-marah bahkan sampai memukul dan mengigit orangtua nya.
     Dari analisis dan sintesis yang saya buat, penyebab thombos menjadi anak pemarah di karena kurangnya pola asuh terhadap anak ini dan kurangnya perhatian dari orangtua, apa saja yang diminta dari thombos harus dituruti.
      Langkah awal mendekati dan menangani si thombos ini memang anak nya kurang mendengarkan apa yang saya katakan tetapi saya mencoba pelan-pelan untuk mendekati dan mengajak dia berbicara dan menanyakan namanya, walaupun dia menjawab tetapi tingkah laku nya masi saja tidak diam dan ingin bermain.
     Setelah saya mencoba untuk berkenalan dengannya saya mencoba lagi untuk menasehatinya,  dan memberitahukan kepadanya agar dia tidak boleh memarahi apa saja yang dia perbuatkan kepada orangtuanya dan teman-temannya tanpa ada sebabnya, dan jika dia ingin memiliki sesuatu yang dia mau harus bisa meminta baik-baik kepada orang yang ada di sekitarnya.
     Dan dia mulai bisa di ajak bermain bersama dan mulai mau mendengarkan apa yang saya katakan.

B.     Saran
Sebaiknya orang tua mencoba pelan-pelan untuk mendekati dan mengajak dia berbicara untuk menjadi anak yang tidak marah lagi tanpa ada sebabnya.







8
DAFTAR PUSTAKA

















9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar