Minggu, 15 Desember 2013

Anak Pencemas




MAKALAH
BIMBINGAN DAN KONSELING DI PAUD
“ANAK PENCEMAS”
Dosen         : Rahman, S.Pd, M.Pd



Disusun Oleh :
               Nama          : Silvi Maulina
               Nim            : 1205125090
               Kelas          : A Sore


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
TAHUN 2013






KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah ini merupakan salah satu dari tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling di PAUD. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada dosen dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...

Samarinda, 13 Desember 2013


Penyusun








i


 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………    i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..    ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang …………………………………………………………   1
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………………..    1
BAB II DASAR TEORI
A.    Pengertian Kecemasan ………………………………………………...............    2
B.     Pengertian Menangis …………………………………………………..............    4
BAB III PEMBAHASAN
A.    Analisis ……………………………………………………………….............    8
B.     Sintesis …………………………………………………………………..........   9
C.     Diagnosis ………………………………………………………………..........    9
D.    Prognosis ………………………………………………………………..........    9
E.     Treatmen ………………………………………………………………...........    9
BAB IV PENUTUP                                                                                                
A.    KESIMPULAN ……………………………………………………...............   10
B.     SARAN ………………………………………………………………...........    10
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………   11            
           




ii




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengertian Bimbingan
Proses pemberian bantuan (psikologis) dari konselor kepada konseli baik secara langsung maupun tidak langsung, baik individual maupun kelompok untuk membantu mengoptimalkan perkembangan individu.
Pengertian Konseling
Proses pemberian bantuan (psikologis) dari konselor kepada konseli secara langsung untuk membantu mengoptimalkan perkembangan individu.
Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.
B.     Rumusan Masalah
Mengapa anak mengalami gangguan kecemasan berpisah dengan orang tuanya, bagaimana cara mengatasi dan menanganinya ?








1



BAB II
DASAR TEORI
A.    PENGERTIAN KECEMASAN
Ada beberapa pengertian tentang kecemasan. Beberapa orang melihat kecemasan sebagai sebuah perasaan gelisah. Di dalam kamus, kecemasan sering disama-artikan dengan kekuatiran (Schaefer & Millman,1981). Dengan demikian, kecemasan atau kekuatiran diartikan sebagai kesukaran, kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan tentang masalah atau perasaan sakit yang sudah diantisipasi atau yang akan dialami di masa mendatang. Sebagai contoh, seorang anak mungkin akan merasa cemas terhadap situasi yang di perkirakan akan ditemuinya di kelompok bermain atau Taman Kanak-kanak pada hari pertama masuk sekolah.
Pada anak-anak, sejumlah gejala kecemasan lain yang dapat diamati adalah sikap gelisah, menangis, berteriak, melangkah bolak-balik, bermimpi buruk, tidak berselera makan, berkeringat, sulit bernapas, sering buang air, gemetar dan kedutan (Schaefer & Millman, 1981; Suran & Rizzo, 1979; Telford & Sawrey, 1981).
Kecemasan yang umum pada anak-anak adalah gangguan kecemasan akan perpisahan (separation anxiety disorder) (Halgin &Whitbourne, 1997). Selain gangguan kecemasan akan perpisahan, gangguan kecemasan yang berlebihan (overanxious disorder) juga umum dialami pada masa kanak-kanak (Wenar, 1994; Sroufe,Cooper & DeHart, 1996).
Sedangkan karakteristik kecemasan pada anak-anak adalah Anak yang cemas mudah dihinggapi perasaan takut dan sering nampak mencari-cari hal yang membuatnya cemas. Mereka sering merasa kuatir dan cemas terhadap situasi sehari-hari, yang orang lain mungkin tidak begitu mempedulikan situasi tersebut. Anak dengan kecemasan yang tinggi sering kali kurang popular, kurang kreatif, dan kurang fleksibel dibandingkan anak yang memiliki kecemasan yang rendah. Mereka lebih mudah bersugesti, ragu-ragu, hati-hati, dan kaku (Schaefer & Millman, 1981). Mereka juga cenderung dikelilingi oleh perasaan tegang, kuatir, kesepian, dan merasa kecil hati (Telford & Sawrey, 1981). Suran dan Rizzo (1979) menyebutkan bahwa anak dengan reaksi kecemasan cenderung menjadi mudah marah, tegang, reaktif, dan waspada secara berlebihan terhadap ancaman dari lingkungan.

2

Penanganan
Sebagai guru Taman Kanak-kanak, ada beberapa hal yang dapat guru lakukan (Schaefer & Millman,1981) dalam menghadapi anak didik yang mengalami kecemasan berlebihan, yaitu :
1.      Menerima Anak dan Menenangkan Hatinya
Anak yang sangat cemas membutuhkan rasa tentram dari seorang guru yang juga tenang dan hangat. Sebagai guru harus tetap tenang jika anak berteriak, menangis, berjalan mondar-mandir, atau panik. Guru harus menunjukkan penerimaan terhadap rasa cemas yang dialami anak dengan tidak mengkritik atau menyalahkan anak. Suasana aman dan optimisme perlu dibangun agar anak merasa bahwa ia akan dapat melalui apa pun yang dihadapinya. Rasa aman dapat diperoleh dengan melontarkan kalimat-kalimat seperti “Kamu tidak perlu cemas, ibumu sebentar lagi juga datang”. Penting untuk bersikap sensitif dan menunjukkan bahwa anda peduli pada saat itu. Sekalipun anda merasa tidak mampu untuk mengatasi kecemasan anak, kehadiran anda setidaknya dapat membuat anak merasa lebih tenang.
2.      Menggunakan Bermacam-macam Strategi untuk mengatasi kecemasan
Ajaklah anak untuk melakukan bermacam-macam kegiatan, seperti melihat buku, mendengarkan lagu, atau menggambar. Melakukan kegiatan yang menyenangkan dapat melawan ketegangan yang ada.
3.      Mendorong Anak untuk Mengekspresikan Perasaannya
Guru dapat meminta anak untuk berbagi cerita mengenai hal-hal yang mencemaskan mereka. Permainan juga dapat dilakukan untuk mengurangi intensitas kecemasan anak. Biarkan anak mengekspresikan kemarahan dan rasa frustasinya dalam kegiatan bermain yang mereka lakukan.
4.      Meningkatkan Pemahaman dan Pemecahan Masalah
Mengetahui “apa menyebabkan apa” juga dapat menolong anak. Guru sebaiknya berusaha untuk menjelaskan kepada anak mengenai beberapa hal yang membuatnya cemas dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti. Anda seharusnya dapat menjadi sumber yang membantu anak memecahkan masalahnya. Ajak anak untuk memikirkan beberapa alternative yang mungkin untuk memecahkan masalah.

3
 
Namun ada juga beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mengantisipasi  agar anak tidak mengalami kecemasan berlebihan, yaitu :
  • Latihan berpisah.  Seminggu sebelum sekolah, lakukan latihan perpisahan. Caranya, lebih sering meninggalkan anak dengan nenek atau pengasuh, namun tepati janji menemuinya kembali pada waktunya. Ciptakan salam berpisah, lambaian tangan rahasia, toss atau cium pipi.
  • Kenali sekolah. Sebelum mulai sekolah, ajak anak melihat kelas, bertemu di halaman sekolah, agar anak familiar.
  • Jangan besar-besarkan. Jangan terlalu sering bertanya, “Kamu senang, kan, sebentar lagi sekolah?” karena membuat dia gugup. Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dikontrol, misalnya, “Kamu akan punya banyak teman.” Jika pengalaman anak tidak sesua janji tersebut, sekolah malan jadi hal yang menakutkan.
  • Ajak anak belanja keperluan sekolah. Kegembiraan memilih perlengkapan sekolah menciptakan perasaan positif tentang sekolah.
  • Temukan wajah yang sudah dikenal. Ajak anak menemui guru atau teman barunya sebelum sekolah di mulai. Setidaknya ada 1-2 wajah yang sudah dikenalnya saat masuk sekolah.
  • Bepikir positif. Anak bisa merasakan suasana hati Anda, karena itu Anda sendiri harus tenang.
  • Ice breaker. Ajak anak membuat gambar untuk diberikan kepada ibu guru di hari pertama. Selain ice breaker, anak gembira jika gambar itu dipajang.
  • Tradisi hari pertama. Berfoto bersama atau sarapan special, jadikan hari pertama sekolah setiap tahunya pengalaman menyenangkan.
  • Berbagai pengalaman, katakan sewaktu kecil Anda juga gugup sekolah, tapi lama-lama berganti senang.
  • Ingatkan rumah. Jangan terlambat tiba di sekolah karena anak dan Anda akan tambah gugup!
  • Jangan “Kabur.” Saat meninggalkan anak di kelas, jangan berbohong Anda mau ke toilet. Pastikan anak tahu Anda pergi untuk menjemputnya kembali.
B.     PENGERTIAN MENANGIS
Menangis bukan sekedar pelampiasan perasaan. Menangis merupakan reaksi atas tersentuhnya hati oleh sebuah kejadian. Arti air mata yang tercurah saat menangis merupakan ungkapan perasaan atas kebahagiaan, kekecewaan juga kesedihan. Tangis adalah anugerah bagi hidup dan hati agar senantiasa menyadari fitrah kemanusiaan yang begitu indah, tetapi lemah dan tak berdaya atas kuasa Yang Maha Perkasa. Menjadi refleksi ketiadaan juga keterbatasan, tiada yang sempurna di dunia dan tak ada keabadiaan atas fana, semua yang bernyawa akan binasa. Lalu, mengapa kita menangis? Adakah manfaat air mata kita?
4

Menangis sudah menjadi identitas manusia sejak dilahirkan, bahkan bagi bayi, menangis dapat disimbolkan sebagai pemberitahuan bahwa ada masalah pada bayi, mungkin merasa sakit atau tidak nyaman. Menangis menjadi hal pertama yang bisa dilakukan generasi Adam dan Hawa di bumi ini. Sebelum bisa bicara, sebelum mampu tertawa, sebelum siap berjalan, tangis itu sudah ada pada diri tiap manusia. Tanpa diajarkan pun, semua bayi, semua anak, semua manusia bisa menangis karena tangis merupakan fitrah yang melekat pada kemanusiaan. Tangis merupakan bentuk kepekaan yang bisa menjadi alat pendeteksi perasaan seseorang. Ketika menangis, biarkan menangis, jangan dipendam. Menangis bukanlah kesalahan yang harus dihakimi. Menangis itu kebebasan jiwa untuk mengungkapakan perasaan yang tersimpan, yang tersisa dan terbiar di dasar keinginan.
Terlepas dari berbagai alasan yang melatarbelakangi tangisan, aktivitas mengeluarkan air mata ini ternyata memberikan manfaat, baik secara psikologis, sosial, medis maupun spiritual. Hal ini didasarkan pada beberapa penelitian para ilmuwan yang mengaitkan aktivitas menangis dengan efek psikologis dan medis.
Secara psikologis, menangis mampu membuat perasaan menjadi lebih baik, nyaman, dan tenang karena tangisan dapat membantu menyingkirkan kimiawi stres dalam tubuh. Berkaitan dengan ini, ada 4 manfaat menangis.
1.      Meningkatkan mood
Menangis bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Dengan menangis, mood akan  terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena luapan perasaan atau emosi mengandung 24% protein albumin yang bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh. Air mata tipe ini jelas lebih baik dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.
2. Mengurangi stress
Penelitian menyatakan bahwa air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin.
3. Melegakan perasaan
Sepertinya, setiap orang merasakan hal ini setelah menangis. Setelah menangis, berbagai masalah dan cobaan yang mendera, kekesalan dan amarah yang menyesak,  serta goresan sakit hati biasanya berkurang dan muncullah perasaan lega. Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar.
5

Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak. Malu menagis sesak di dada, tertahan menjadi ganjalan perasaan yang sewaktu-waktu bisa memporakporandakan pertahanan jiwa, rasa bahkan raga.
4. Menjadi penghalang agresivitas
Orang yang sedang memuncak tingkat emosinya, meletup amarahnya biasanya akan berlaku dan bersikap lebih agresif bahkan bisa berdampak destruktif. Emosi yang diluapkan dengan menangis mampu menjadi penghalang agresivitas. Seperti yang diungkapkan Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, bahwa dengan air mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah.
Pernyataan Orren Hasson mengenai turunnya agresivitas seseorang dengan menagis bisa memberikan sebuah kausalitas terhadap keberadaan dan hubungan seseorang secara sosial. Menangis bisa membantu seseorang membangun sebuah komunitas. Biasanya seseorang menangis setelah menceritakan masalahnya kepada teman-temannya atau seseorang yang bisa memberikan dukungan, dan hal ini bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan juga bersosialisasi. Dengan demikian, hubungan sosial bisa menjadi lebih dekat, sehingga mampu memupuk persahabatan yang lebih langgeng. Dalam hubungan kelompok seperti persahabatan atau pertemanan, menangis bisa dianggap sebagai bentuk keterpaduan antara satu dengan lainnya. Bahkan ada beberapa kasus yang mengidentifikasikan bahwa menangis bisa menimbulkan empati seorang musuh untuk tidak menyerang lawannya. Air mata bisa menjadi senjata yang meluruhkan amarah dan kebencian bahkan mungkin peperangan (tentunya bukan air mata buaya!). Karena alasan inilah maka banyak jiwa yang luluh karena tangisan, tersentuh, tergugah bahkan terbelenggu tangisan seseorang..
Meski demikian, menangis tidak akan selalu manjur dalam beberapa kondisi. Oleh sebab itu dalam beberapa kesempatan menangis justru tak dapat memberikan dampak seperti yang diperkirakan. Bahkan sebaiknya dihindari. Dalam bekerja misalnya, aktifitas menangis bahkan sebaiknya tak perlu ditampakkan. Mungkin dalam bekerja menangis justru akan ditanggapi sebagai bentuk kelemahan dan sifat menyerah yang sangat dijauhi dalam dunia kerja. Tapi mungkin tak berlaku untuk profesi yang menuntut empati
Dari segi medis, kegiatan mengundang dan mencurahkan air mata ini memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, khususnya mata. Manfaat tersebut sebagaimana dikutif dari Beliefnet di antaranya :

6
  1. Membantu penglihatan. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.
  2. Membunuh bakteri. Air mata berfungsi sebagai antibakteri alami. Tanpa obat tetes mata, sebenarnya mata sudah mempunyai proteksi sendiri. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 % bakteri yang tertinggal hanya dalam 5 menit. Misalnya, bakteri yang terserap dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin, serta tempat-tempat yang mengandung bakteri.
  3. Mengeluarkan racun. William Frey, seorang ahli biokimia yang telah melakukan beberapa studi tentang air mata menyatakan bahwa air mata yang keluar saat menangis karena faktor emosional ternyata mengandung racun. Jadi, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa racun dari dalam tubuh terbawa dan dikeluarkan melalui mata.
  4. Membantu melawan penyakit. Selain menurunkan level stres, air mata juga membantu melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi. Bagaimanapun, perasaan tertekan dan tersakiti bisa membuat seseorang stres. Endapan stres yang terpendam dengan menahan tangisan inilah yang sering menimbulkan gejala tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya yang dipicu oleh stres.













7



BAB III
PEMBAHASAN
A.    Analisis
Biodata Konseli
Nama Lengkap          : Firda Meidasari
Nama Panggilan         : Ida
Tempat,Tanggal lahir  : Tenggarong, 24 Mei 2008
Jenis Kelamin            : Perempuan
Anak Ke                   : 2 (dua) dari dua bersaudara
Alamat                      : Jln. Danau Aji Gg. 5 Rt.33 No.31 Kel-Melayu
                                      Kec. Tenggarong
Agama                      : Islam
Suku                         : Sunda
Warna Favorit           : Pink & ungu
Tinggal                      : Bersama Orang tua
Nama Orang Tua        
·         Ayah                         : Ending
·         Ibu                            : Dra.Dede Marlina
Pekerjaan                    
·         Ayah                         : Swasta
·         Ibu                            : Guru



8

B.     Sintesis
Ida menangis di kelas ketika di tinggal oleh ibunya, karena sejak kecil dia tidak pernah di tinggal oleh ibunya, ia merasa takut jika orang tuanya meninggalkan dia, dan perilaku tidak konsisten orang tua yang membuat anak semakin sulit untuk berpisah.
C.    Diagnosis
Gangguan kecemasan untuk berpisah yang dialami ida kemungkinan disebabkan oleh kombinasi faktor genetic dan lingkungan. Anak-anak yang memiliki orang tua yang sangat protektif bisa lebih rentan untuk mengalami gangguan kecemasan berpisah.
D.    Prognosis
Sebagai guru harus tetap tenang jika anak berteriak, menangis, berjalan mondar-mandir, atau panik. Guru harus menunjukkan penerimaan terhadap rasa cemas yang dialami anak dengan tidak mengkritik atau menyalahkan anak. Mengajak ida melakukan kegiatan yang menyenangkan agar mengurangi ketegangan dan ida merasa nyaman berada disekolah.
E.     Treatmen
Jika kecemasan sangat intens (mendalam) dan berlangsung lama, bantuan profesional mutlak dibutuhkan. Apalagi jika cara-cara sebelumnya tidak berhasil mengurangi kecemasan anak. Guru dapat menganjurkan orang tua anak untuk membawa anak ke profesional yang kompeten dengan masalah anak.








9



BAB IV
PENUTUP
B.     KESIMPULAN
Anak-anak yang ditinggal orangtuanya di sekolah, wajar dia mengalami apa yang disebut “separation anxiety”. Ia mengalami kecemasan berpisah. Ini ditunjukkan dengan cara menangis atau rewel saat anak ini berpisah dari orangtuanya. Sebenarnya nangis dan rewelnya pun tidak akan lama. Beberapa hari pertama ditinggalkan mungkin ia akan masih menangis, tapi jika orangtua konsisten ia tidak akan melakukannya lagi. Tetapi jika orangtua terus mengulur-ngulur momen meninggalkan anak di sekolah, maka anak akan makin rewel dan sulit berpisah dengan orangtuanya dan ini akan membuat sulit anak dan orangtua sendiri.
C.     SARAN
Sebaiknya orang tua harus konsisten dengan perilakunya agar anak tidak sulit untuk berpisah. Untuk guru sebaiknya memberikan pengajaran yang menyenangkan untuk anak didiknya agar anak merasa nyaman berada disekolah.












10


DAFTAR PUSTAKA
Hidayani, Rini. 2008. Penanganan Anak Berkelainan (Anak Berkebutuhan
Khusus). Jakarta:Universitas Terbuka.
















11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar