LAPORAN
PENGAMATAN DAN PRAKTEK PENERAPAN BIMBINGAN KONSELING PADA ANAK
DI SUSUN OLEH :
NAMA : Jilia Yusdah
NIM : 1205125077
KELAS : PAUD A SORE 2012
PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MULAWARMAN
KATA
PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karna atas rahmat-Nya
lah makalah ini dapat dapat terselesaikan.
Didalam proses
persiapan, observasi dan pembuatan makalah ini tidak apat terlepas dari bantuan
berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung turut menunjang
penyelesaian makalah ini.
Penyusun
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karna out segala
sarang dan kritik yang membangung sangat penyusun harapkan. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Samarinda
, 15 Desember 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
Cover……………………………………………………………………………..1
Kata pengantar……………………………………………………………………2
Daftar isi…………………………………………………………………………..3
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang……………………………………………………………4
B.
Rumusan
Masalah…………………………………………………………5
C.
Tujuan…………………………………………………………………….5
BAB
II DASAR TEORI
A. Pengertian Anak Penakut………………………………………………..6
B.
Penyebab
Anak Menjadi Takut………………………………………….6
C. Penyelesaian masalah……………………………………………………7
D. Mendidik anak yang penakut……………………………………………8
BAB
III PEMBAHASAN
A. Analisis
………………………………………………………….........…10
B. Sintesis …………………………………………………………….........11
C. Diagnosa
…………………………………………………………...........11
D. Prognosis
…………………………………………………………...........11
E. Treatment
…………………………………………………………..........11
BAB
IV PENUTUP
A. Kesimpulan
………………………………………………………............13
B. Saran
………………………………………………………………..........13
DAFTAR
PUSTAK.............................................................................................14
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara
optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui
berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang
berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995)
Bimbingan dan konseling merupakan
upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai
tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif,
pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam
lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan
individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui
interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan
tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi
dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk
mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
Bimbingan dan
konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru
sebagai pembelajaran bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan
peserta didik. (Naskah Akademik ABKIN, Penataan Pendidikan Profesional
Konselor dan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan
Formal, 2007).
Merujuk pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebutan
untuk guru pembimbing dimantapkan menjadi ’Konselor.”
Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah
satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong
belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Pengakuan
secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang
lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk
konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting layanan
spesifik yang mengandung keunikan dan perbedaan.
B.
Umusan Masalah
1. Apa saja karakteristik anak penakut
?
2. Apa saja yang menyebabkan anak
menjadi penakut ?
3. Apa saja treatmen yang bisa
diberikan kepada anak penakut, agar mereka tidak menjadi penakut lagi ?
4. Apa saja perubahan yang terlihat
pada anak ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja
karakteristik anak penakut .
2. Untuk mengetahui apa saja penyebab
anak menjadi takut.
3. Untuk mengetahui apa saja treatmen
yang diberikan kepada anak,agar mereka tidak menjadi takut lagi.
4. Untuk mengetahui perubahan apa saja yang
telah terlihat oleh anak setelah melakukan treatmen.
BAB
II
DASAR
TEORI
A. Pengertian
Anak Penakut
Ketakutan
adalah suatu reaksi emosi yang timbul karena adanya ancaman yang ada di
benaknya. Ungkapan perasaan ini dapat menyatakan adanya ketidak seimbangan
dalam jiwanya, misalnya menjadi cemas dan gugup, atau juga menyatakan reaksi
fisiknya seperti jantung yang berdebar cepat. Kadang-kadang dengan hati yang
penuh ketakutan dapat menghindarkan diri dari bahaya dan menolong diri untuk
tetap berusaha memiliki semangat hidup.
Rasa
takut sendiri sebenarnya adalah hal normal, dan hal yang dapat dipahami. Justru
rasa takut inilah yang membuat anak dan kita sendiri menjadi terhindar dari
berbagai bahaya. Secara tidak sadar bahkan kita sebagai orang tua sering kali
mengajarkan anak untuk takut. Sering kita berkata “ Awas nanti jatuh”, dengan
berkata seperti itu sebenarnya kita mengajarkan anak untuk menggunakan rasa
takutnya agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu bahkan berhati-hati dalam
segala hal.
B.
Penyebab Anak Menjadi Takut
Ketakutan
pada diri anak bisa disebabkan oleh beberapa hal :
a.
Takut
akan kegelapan
Biasanya ketakutan akan kegelapan timbul
ketika orang tua mengharuskan anak tidur dalam kamarnya yang benar-benar gelap,
atau bila anak terbangun ditengah malam, dalam keadaan kamarnya gelap gulita.
b.
Takut
pada binatang
Ketakutan pada binatang atau serangga
hamper dialami oleh setiap anak kecil, namun biasanya akan hilang dengan
sendirinya seiring pertambahan usianya..
c.
Takut
pada petir / kilat
Peristiwa yang berkaitan dengan factor
penyebabnya petir sering ditayangkan di layar TV dan sangat mempengaruhi baik
anak maupun orang dewasa yang menyaksikan. Petir dengan suara yang keras juga
merupakan fenomena alam yang menakutkan.
d.
Takut
pergi ke dokter
Banyak anak takut pergi ke dokter umum atau
dokter gigi. Oleh sebab itu banyak dokter yang dengan bermacam upaya mengusahakan
supaya anak dapat merasa tenang dan nyaman sewaktu diperiksa.
e.
Takut
terhadap orang lain.
Takut terhadap orang lain merupakan
pengalaman yang harus ditempuh oleh anak pada masa pertumbuhannya.. Orang tua
maupun guru di sekolah harus dengan sabar mendorong anak untuk bergaul dengan
orang yang dianggap asing sampai akhirnya berkenalan dan menjalin hubungan baik
dengannya.
f.
Takut
terhadap benda aneh
Anak kecil penuh dengan daya imajinasi dan
masalah akan timbul bila daya imajinasinya dikuasai oleh ketakutan. Mereka
sering takut terhadap benda / binatang yang aneh karena ia membandingkan apa
yang ada dalam pikirannya tentang cerita hantu, nenek sihir dsb. Mereka belum
mampu membedakan antara yang khayal dan yang nyata.
g.
Cerita-cerita
yang menyeramkan
Cerita-cerita seperti ini pada dasarnya
akan membuat anak menjadi penakut, oleh sebab itu akan lebih baik jika
cerita-cerita seperti ini diganti dengan cerita-cerita kepahlawanan. Namun
berbeda bagi anak yang super pemberani terkadang memang perlu dibuat ada
sesuatu yang ditakuti untuk dapat mengontrol kelakuannya. Kendati demikian hal
tersebut adalah langkah terakhir.
h.
Perlakuan
kasar dari orang tua
Seringnya anak menerima hukuman yang berat
serta ancaman terus-menerus akan membentuk mental anak yang penakut. Apalagi
jika penerapan hukuman tersebut dalam keadaan emosi masih labil. Baca kembali
“Seni Menjatuhkan Hukuman”. Sikap seperti ini sangat perlu diganti dengan
membangun komunikasi yang aktif kepada anak.
i.
Meniru
kebiasaan Ibu yang penakut
Kehidupan anak terbesar umumnya adalah
bersama ibu. Jadi adalah suatu kemungkinan besar mereka akan meniru kebiasaan
ibu yang penakut tersebut. Oleh sebab itu sebaiknyalah sang ibu jangan
menunjukkan rasa takutnya di hadapan anak.
C.
Penyelesaian masalah
Rasa takut merupakan perasaan yang
pasti dimiliki oleh semua orang. Akan tetapi apabila rasa takut itu dialami
secara berlebihan, pasti akan menjadi suatu masalah.lalu bagaimana penyelesaiannya
adalah sebagai berikut:
a.
Menguasai
Lingkungan
Mengatur
suatu lingkungan pengalaman yang menyenangkan supaya perasaan ketakutan secara
perlahan-lahan menjadi hilang. Misalnya anak takut gelap, biarkan dia
perlahan-lahan mendekati sendiri kegelapan itu, berman tutup mata untuk mencari
sesuatu, atau dengan memasang lampu yang bersinar lembut untuk mendampingi
mereka tidur malam.
b.
Meredakan
keteganga.
Untuk menenangkan emosi yang sedang
mencekam, suruh anak menarik nafas panjang, kemudian tangan diulur kedepan
sambil dikepalkan dan diam sejenak, selanjutnya angkat kaki kiri dengan kedua
tangan dieratkan dan diamkan sejenak, lalu ganti kaki kanan dan lakukan gerakan
tadi. Ulangi terus sampai anak merasa tenang dan tidak tegang lagi.
c.
Menggunakan
daya imajinasi
Anak
dibimbing untuk berimajinasi bagaimana Tuhan menemani mereka ke dokter atau
pada waktu duduk di kursi dokter gigi.
d.
Mempelajari
sesuatu melalui observasi
Observasi mengurangi rasa takut dan gugup,
dengan menyuruh mereka belajar dari teman sebaya sewaktu menghadapi situasi
yang sama, tetapi tidak takut, atau dengan menyaksikan film di acara teve di
mana anak-anak dapat menghadapi situasi yang tegang tetapi tetap dapat tenang.
e.
Menjelaskan
konsep dengan tepat
Salah
dalam menggunakan daya imajinasi atau kurangnya pengetahuan umum dapat membuat
anak takut pada sesuatu yang belum diketahuinya. Memberikan penjelasan tentang
asal mula gejala-gejala yang membuat mereka takut akan sangat menolong mereka.
f.
Memberikan
pujian
Mungkin
saja pemberian pujian pada anak dapat mengurangi rasa takut. Pujian seperti ucapan-ucapan
yang memotivasi mereka atau memberikan hak/kewenangan.
Misalnya , bila ia berani melakukan apa yang tadinya ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang atau diperbolehkan bermain lebih lama.
Misalnya , bila ia berani melakukan apa yang tadinya ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang atau diperbolehkan bermain lebih lama.
D. Mendidik
anak yang penakut
Kemampuan berpikir anak masih sangat
sederhana oleh sebab itu mereka terkadang menyalahgunakan keberanian untuk
hal-hal yang tidak baik. Misalnya berkelahi, merebut mainan teman dan
lain-lain. Kesalahan dalam cara mendidik tentu saja akan menimbulkan efek yang
buruk pada diri anak. Kejadian seperti beginilah yang pada umumnya membuat anak
terhambat dalam berbuat kebaikan. Oleh sebab itu kiranya sangat perlu bagi
orang tua ataupun guru untuk mengetahui sikap atau teknik mendidik penghambat
kebaikan anak. Setidaknya ada 7 teknik pendidikan yang menghambat anak dalam
berbuat kebaikan. 7 teknik tersebut antara lain :
1) Kekurang sabaran terhadap anak
Orang
tua yang tidak sabar menginginkan perubahan yang instan pada diri anak.
Akibatnya sang anak akan melakukan perubahan di depan orang tua atau guru,
namun ia akan mencuri kesempatan untuk berbuat yang sebaliknya dibelakang orang
tuanya.
Perubahan yang baik bagi anak terjadi karena adanya perubahan pemahaman sang anak. Hal ini membutuhkan waktu yang relatif tidak sama bagi setiap anak. Ada yang cepat namun ada juga anak yang lambat. Perbedaan ini harus diketahui oleh orang tua atau guru.
Perubahan yang baik bagi anak terjadi karena adanya perubahan pemahaman sang anak. Hal ini membutuhkan waktu yang relatif tidak sama bagi setiap anak. Ada yang cepat namun ada juga anak yang lambat. Perbedaan ini harus diketahui oleh orang tua atau guru.
2) Tidak adanya suasana penuh cinta dan
dorongan dari orang tua atau guru.
Sifat utama anak adalah mudah mendapat sugesti, hal ini dikarenakan banyak hal yang ia ingin ketahui dan ia lebih percaya kepada orang dewasa, dalam hal ini orang tua atau guru ( untuk anak usia TK biasanya lebih percaya kepada guru ). Suasana penuh cinta dan dorongan dapat diwujudkan dengan meluangkan waktu untuk bermain dengan anak, berdiskusi dengan mereka, dan memberikan penghargaan jika mereka berbuat baik dan memberika pemahaman ketika berbuat salah.
Sifat utama anak adalah mudah mendapat sugesti, hal ini dikarenakan banyak hal yang ia ingin ketahui dan ia lebih percaya kepada orang dewasa, dalam hal ini orang tua atau guru ( untuk anak usia TK biasanya lebih percaya kepada guru ). Suasana penuh cinta dan dorongan dapat diwujudkan dengan meluangkan waktu untuk bermain dengan anak, berdiskusi dengan mereka, dan memberikan penghargaan jika mereka berbuat baik dan memberika pemahaman ketika berbuat salah.
3) Terlalu besar mengharapkan perubahan
prilaku anak ke arah yang lebih baik.
Pengharapan yang terlalu besar membuat orang tua atau guru menjadi berlaku over atau berlebihan. Sikap yang berlebihan terhadap anak banyak menimbulkan permasalahan bagi anak. Orang tua yang over protektif akan melemahkan mental anak sehingga anak membiasakan diri untuk selalu tergantung pada orang tuanya, Ia akan sulit untuk mandiri. Anak yang selalu kena marah juga akan merusak mental anak sehingga ia menjadi anak yang tidak percaya diri dan menjadi anak pemimpi atau penghayal.
Pengharapan yang terlalu besar membuat orang tua atau guru menjadi berlaku over atau berlebihan. Sikap yang berlebihan terhadap anak banyak menimbulkan permasalahan bagi anak. Orang tua yang over protektif akan melemahkan mental anak sehingga anak membiasakan diri untuk selalu tergantung pada orang tuanya, Ia akan sulit untuk mandiri. Anak yang selalu kena marah juga akan merusak mental anak sehingga ia menjadi anak yang tidak percaya diri dan menjadi anak pemimpi atau penghayal.
4) Keinginan terlalu besar menjalankan
aturan. Sifat alami anak adalah bermain dan bebas. Ia butuh waktu yang lama
untuk memahami aturan peraturan. Perubahan anak tidak bisa dibuat dengan serba
instan. Keadaan seperti ini haruslah dimengerti oleh orang tua atau guru atau
orang dewasa. Keinginan orang tua yang terlalu besar untuk menjalankan aturan
akan membuat anak merasa terkekang dan menghambat kreatifitas anak.
5) Ketidak pahaman terhadap perasaan
dan pandangan anak
Anak-anak
juga merupakan individu yang mempunyai nalar dan perasaan sendiri. Meskipun
penalaran anak terkadang bertolak belakang dengan cara penalaran orang dewasa.
Hal ini dikarenakan masih sederhanya sistem otak anak dan masih banyak pula hal
baru yang perlu dieksplorasi anak. Terkadang sang anak dalam mengungkapkan
keinginan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya ketika minta minum susu
lagi ia hanya marah-marah saja dan menarik-narik ibunya. Oleh sebab itu sangat
penting sekali dibangun komunikasi antara anak dan orang tua.
6) Menganggap anak bukan sebagai individu
yang aktif dalam masyarakat.
Anak
juga menginginkan diakui keberadaannya dalam masyarakat. Ia juga ingin terlibat
dalam kegiatan sosial dalam bermasyarakat. . Dengan keterlibatan mereka dalam
masyarakat akan menimbulkan rasa percaya diri anak semakin meningkat. Sehingga
ia tidak akan takut untuk bergaul dengan orang lain yang baru dikenal.
7) Membawa persoalan pribadi ke dalam
pergaulan dengan anak-anak
Perasaan
anak masihlah halus dan peka, namun ia masih sulit untuk mengkomunikasikan
tentang perasaannya. Ketika takut dan khawatir mereka hanya tahu menangis dan
berteriak-teriak. Di dalam mendidik anak tidak hanya perlu mengetahui tujuan
yang akan dicapai tapi juga perlu memahami naluri anak. Meskipun setiap anak
mempunyai naluri yang berbeda namun secara garis besar naluri mereka tetap
sejalan.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Analisis
1.
Identitas
Anak
Nama Lengkap : Ikbal Nurfaitsal
Nama Panggilan : Ikbal
Tempat Tanggal Lahir : Samarinda, 03 Mey 2008
Alamat Asal : Jl. Mogonsidi Gg 02 No 01
Samarinda
Anak ke :
2 (Dua)
Agama :
Islam
Makanan kesukaan : Bakso
Minuman kesukaan : Susu
2.
Identitas
Orang Tua
Nama orang Tua : Darmansyah
Alamat Orang Tua : Samarinda
Agama :
Islam
Hobby :
Sepak bola
Masalah yang di alami
anak : Ikbal anak yang penakut,
jika mendengar orang berteriak dan membentaknya dia akan menangis.
B.
Sintetis
Berdasarkan
analisis yang saya buat melalui wawancara langsung kepada orang tua ikbal, maka
kesimpulan sementara adalah ikbal termasuk anak yang penakut. Ikbal jarang
berbicara dengan temannya dikelas, dia juga kurang suka bermain. Jika sedang
belajar dalam kelas, ikbal lebih suka diam dan jika ditanya gurunya dia hanya
mengelengkan kepalanya dan jarang melakukan aktivitas seperti taman-teman
lainnya.
Ikbal
menangis jika mendengar orang berteriak dan membentaknya, sehingga hubungannya
dengan temannya pun kurang akrab, dan dia tidak mau bermain dengan mereka. Jika
saya memperhatikan ikbal dia tidak mau melihat saya dan selalu menundukan
kepalanya, mukanya pun tampak murung, tegang dan ketakutan.
C.
Diagnosa
berdasarkan analisis dan sintetis dari pengamatan yang saya lakukan serta berdasarkan kepada teori yang saya pelajari, penyebab utama ikbal menjadi anak yang penakut adalah factor otang tua. Karna orang tua ikbal sering membentak ikbal dan meneriakinya jika ia melakukan kesalahan kadang juga memukuli ikbal.
berdasarkan analisis dan sintetis dari pengamatan yang saya lakukan serta berdasarkan kepada teori yang saya pelajari, penyebab utama ikbal menjadi anak yang penakut adalah factor otang tua. Karna orang tua ikbal sering membentak ikbal dan meneriakinya jika ia melakukan kesalahan kadang juga memukuli ikbal.
D.
Prognosa
Penanganan
awal yang saya lakukan pada permasalahan yang dihadapi ikbal adalah mendekati
dia dan mengajaknya berbicara meskipun ikbal terlihat sangat takut ketika saya
mengajaknya berbicara, lama-kelamaan ikbal mau mau juga diajak berbiara meski
jawaban dari ikbal hanya iya dan tidak mau.
Pelan-pelan saya merayu
ikbal untuk mau bermain bersama saya, pertama ikbal selalu menolak tetapi
lama-kelamaan ikbal tertarik juga untk bermain bersama saya. Jika ada hari
libur saya selalu mengajak ikbal bermain dan mengajaknya berbicara.
Lama-kelamaan ikbal tidak menunduk jika diajak berbicara dan muka ikbal lebih
kelihatan riang.
E.
Treatmen
Saya
mulai kegiatan tanggal 20 N0vember 2013 ikbal adalah anak dari teman tante
saya, sehingga saya lebih gampang untuk mengamatinya. Sebenarnya maksud orang
tua ikbal baik, cuman cara mendidiknya kurang baik,karna jika ikbal malas
belajar orang tuanya selalu membentak dan kadang memukulinya. Saya pun melakukan
penjelasan sedikit kepada orang tua ikbal bahwa dengan kekerasan mendidik anak
hanya akan membuat perkembangan anak memburuk.
Setelah melakukukan pendekatan
kepada ikbal dan selalu mengajaknya bermain dan berbicara kini ikbal tidak
takut lagi berbicara dan bermain, jika
ada waktu saya selalu mengajak ikbal bermain dengan anak tante saya agar ikbal
mau bersosialisasi dengan lingkuganya, kini ikballah yang selalu mengajak saya
untuk bermain dan berbicara dan dia lebih berani mengungkapkan perasaannya jika
terjadi sesuatu kepadanya dan saya memberikan dukungan dan empati kepada ikbal.
Dan saya juga menayakan ikbal kepada
gurunya, kini sudah banyak perubahan terhadap prilaku ikbal, kini dia sudah
sangat akrab dengan teman-temannya, dan juga dulunya ikbal jika ditanya oleh
gurunya hanya geleng kepala, sekarang ikbal sudah berani menjawab semua
petanyaan gurunya dan berani untuk maju kedepan dia pun tidak takut lagi jika
ada orang yang berteriak didekatnya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak penakut sering menghindar jika
diajak berbicara, dan selalu tertunduk dan tidak sanggup untuk melihat orang
yang berbicara dengan mereka dan akhirnya menangis. Dalam berhubungan sosial
mereka biasanya lebih banyak diam, jika ditanya mereka hanya menggelengkan
kepalanya dan menjawab iya dan tidak saja.
Anak yang penakut tampak kurang
ramah, dan jika mendengan suara yang gaduh mereka sangat tidak suka.
B. Saran
Hanya inilah
makalah yang dapat saya buat, dan tidak lupa saya mengucapkan syukur kepada
Allah karna atas rahmat Nyalah saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Dan saya juga
sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca,dengan kritik dan saran dari
pembacalah saya dapat mengetahui kekurangan dan kesalahan saya salam menulis
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar